Top Tier Providence, Secretly Cultivate for a Thousand Years

Bab 37: Tingkat Keempat Alam Nascent Soul, Meniru Langit dan Bumi

Released on Oct 23, 2026 • 09:50 • 8 Total Readers

Top Tier Providence, Secretly Cultivate for a Thousand Years

Bab 37: Tingkat Keempat Alam Nascent Soul, Meniru Langit dan Bumi

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Han Jue menerima bulu merah menyala itu lalu memeriksanya dengan indra ilahinya.

Sesaat kemudian, ia merasakan sebuah kekuatan dahsyat yang menghalangi indra ilahinya.

Mungkin hanya indra ilahi seorang kultivator ranah Soul Formation yang mampu menembus benda tersebut secara paksa.

Tingkat kesukaan Yang Tiandong terhadap dirinya telah mencapai bintang 3. Jadi, apa yang diucapkannya kemungkinan besar memang benar.

“Kalau begitu, aku terima dulu ini. Kamu bisa mengolah energi spiritualmu selama sepuluh tahun terlebih dahulu. Aku menyukai orang yang berkultivasi dengan tekun. Jika performamu bagus, aku akan mengajarimu mantra,” tutur Han Jue.

Yang Tiandong bergegas menghaturkan terima kasih.

Han Jue menunjuk ke sisi ruangan sembari berujar, “Carilah tempat untuk bermeditasi dan berkultivasi.”

Setelah itu, ia memejamkan mata dan mulai berkultivasi.

Yang Tiandong bangkit lalu mencari sebuah sudut untuk duduk.

Ia tidak berani memandang ke arah Han Jue karena takut menyinggung perasaannya, sehingga ia langsung mulai berkultivasi.

Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa Qi Spiritual di dalam gua kediaman ini luar biasa pekat.

Ini benar-benar tempat yang sempurna untuk berkultivasi!

...

Semenjak formasi susunan Pengumpul Qi Spiritual dan harta karun alam baru ditambahkan ke dalam gua kediaman tersebut, Qi Spiritual di sana menjadi kian pekat. Kultivasi Han Jue pun berlangsung semakin efisien.

Dalam sekejap mata, sepuluh tahun telah berlalu.

Pada saat yang sama, Han Jue berhasil menembus tingkat keempat ranah Nascent Soul.

Kecepatan terobosan semacam ini jelas telah melampaui batas kaum fana.

Menilik kecepatan kultivasi ini, menerobos ke ranah Soul Formation sudah tidak lama lagi.

Han Jue membuka matanya.

Dalam kurun sepuluh tahun ini, kultivasi Yang Tiandong telah mencapai tingkat keenam ranah Foundation Establishment.

Enam tingkat dalam sepuluh tahun.

Progresnya terbilang cukup cepat.

Ia memang benar-benar seorang jenius!

Han Jue memanggilnya, “Tiandong.”

Yang Tiandong seketika tersentak bangun dan bergegas bersujud menyembahnya.

“Bagaimana perasaanmu selama sepuluh tahun ini?” tanya Han Jue.

Yang Tiandong menjawab, “Murid telah memperoleh manfaat yang luar biasa besar. Tidak hanya tingkat kultivasi saya yang meningkat, tetapi saya juga telah memahami banyak prinsip kebijaksanaan.”

Astaga!

Sudah sepuluh tahun berlalu!

Yang Tiandong meratap pilu di dalam benaknya.

Sepanjang sepuluh tahun ini, ia telah dirundung rasa putus asa yang tak terhitung jumlahnya.

Kendati demikian, ia meyakini bahwa ini adalah ujian dari Han Jue untuk dirinya, dan ia sama sekali tidak boleh lengah.

Jika ia bahkan tidak mampu melewati tahap pertama ini, Han Jue pasti tidak akan sudi menganggapnya sebagai murid.

Han Jue mengangkat alisnya.

Memahami banyak prinsip kebijaksanaan?

Omong kosong!

Aku sendiri telah mengasingkan diri berkultivasi tertutup selama lebih dari seratus tahun, tetapi aku sama sekali belum memahami prinsip apa pun.

Han Jue merasa bahwa Yang Tiandong perlu mencari pengalaman lebih banyak. Ia pun berkata, “Keluarlah dan jalankan beberapa misi. Seingatku, balai misi sekte memiliki daftar kontribusi bulanan. Kamu baru boleh kembali setelah berhasil menduduki peringkat pertama di daftar itu.”

Yang Tiandong sontak bangkit berdiri.

Namun saat ia berdiri, ia nyaris saja tersungkur kembali.

Setelah duduk bersila selama sepuluh tahun penuh, bagian bawah tubuhnya telah kaku mati rasa.

Ia bergegas membungkuk memberi hormat lalu undur diri.

Han Jue melambaikan tangannya dan membukakan pintu.

Sepeninggal Yang Tiandong, Han Jue merenung sejenak sebelum kemudian mengeluarkan Pil Kognisi Ilahi yang ia dapatkan dari membunuh Duan Tongtian.

Pil tersebut berguna untuk memperkuat indra ilahi.

Setelah memperkokoh indra ilahinya, ia bisa mencoba menerobos bulu merah menyala yang telah diberikan oleh Yang Tiandong.

Terdapat sembilan butir pil di dalam botol tersebut. Han Jue langsung mengeluarkan sebutir.

Usai menelan Pil Kognisi Ilahi, Han Jue seketika merasa kepalanya pening berputar.

Beberapa saat pun berlalu.

Ketika ia tersadar, ia mendapati bahwa kekuatan indra ilahinya telah berlipat ganda.

Ia merasa begitu terkejut sekaligus gembira.

Pil ini sungguh luar biasa khasiatnya!

Han Jue pun mulai mengonsumsi pil tersebut secara teratur.

Setengah bulan kemudian.

Kesembilan butir Pil Kognisi Ilahi telah habis dikonsumsi. Khasiatnya luar biasa mencengangkan. Indra ilahinya melonjak drastis.

Kekuatannya kini telah meningkat lebih dari sepuluh kali lipat!

Semakin banyak pil yang ditelan, semakin dahsyat pula efek yang dirasakan. Sungguh sebuah keajaiban mistis.

Han Jue kembali mengeluarkan bulu merah menyala itu lalu menyelidikinya dengan indra ilahi.

Bum—

Penolakan dahsyat itu kembali muncul!

Han Jue mengertakkan gigi dan terus bertahan.

Indra ilahinya bertumbukan sengit melawan lapisan pembatas tersebut.

Setelah berselang sekitar tiga detik, ia akhirnya berhasil mendobrak daya tahan itu secara paksa.

Tepat setelahnya, gelombang memori dalam jumlah yang teramat masif mengalir deras membanjiri benak Han Jue.

Kekuatan Mistis!

Meniru Langit dan Bumi!

Ini adalah sebuah kekuatan mistis yang memungkinkan raga seseorang membesar hingga sepuluh ribu kali lipat.

Kekuatan mistis ini telah kerap kali muncul dalam berbagai legenda kuno. Apabila telah dikuasai secara sempurna, seseorang dapat menjelma dengan wujud setinggi sepuluh ribu meter!

Han Jue luar biasa gembira. Ia menyukai keagungan serta kemegahan yang terpancar dari kekuatan mistis ini.

...

Di tengah barisan pegunungan, sekelompok kultivator tampak tengah bergegas menempuh perjalanan.

Sosok yang melangkah paling depan adalah Mo Fuchou.

Mo Fuchou telah berhasil menembus ranah Golden Core dan kini telah resmi menjadi seorang Murid Inti sejati.

Selain dirinya dan dua orang murid laki-laki lainnya, sisa dari rombongan tersebut seluruhnya adalah para pemuda dan pemudi.

“Apakah Sekte Giok Murni sudah dekat di depan sana?”

“Aih, akankah aku gagal dalam ujian seleksi nanti!?”

“Gagal itu hal yang biasa. Bersikaplah baik padaku kelak, dan aku akan mengizinkanmu meniup seruling. Dengan kemampuan bersiulmu, kamu pasti pandai meniup seruling.”

“Puncak mana yang paling kuat di antara delapan belas puncak yang ada?”

“Aku tidak tahu pasti. Kakak Seperguruan Mo nanti akan memperkenalkan setiap puncak kepada kita setibanya di sana.”

Para remaja ini merupakan calon murid baru Sekte Giok Murni. Mo Fuchou baru-baru ini menerima sebuah misi untuk mengemban tanggung jawab merekrut para murid baru.

Daois Guntur Abadi Tua berniat untuk mendukungnya. Menjadi seorang Murid Inti belumlah cukup, Mo Fuchou perlu membangun wibawa serta pengaruh kekuasaannya sendiri.

Merekrut murid-murid baru merupakan jalan termudah untuk menjalin relasi sekaligus menegakkan otoritas.

Mendengar obrolan ramai di belakangnya, seulas senyum terbit di wajah Mo Fuchou.

Dahulu kala, ia pun merasakan antusiasme yang begitu meluap-luap saat pertama kali bergabung dengan sekte.

Tepat pada saat itu!

Suara desingan yang membelah udara terdengar melesat dari arah depan. Secara refleks, Mo Fuchou menghunus pedangnya dan menebas udara, menghancurkan sebatang anak panah bambu hingga berkeping-keping. Sesaat berselang, serpihan panah bambu itu menjelma menjadi kabut beracun yang menyebar luas ke segala penjuru.

“Mundur, kita dihadang musuh!” seru Mo Fuchou dengan nada berat, lalu melesat melompat ke udara sembari mengayunkan pedangnya ke arah sang penyerang.

Sosok itu adalah seorang pria yang mengenakan mantel jerami, dengan topi caping bambu yang menutupi wajahnya. Ia mencabut sepasang bilah melengkung dari punggungnya, memancarkan kilau bilah yang dingin dan mengilap.

Melihat Mo Fuchou menerjang ke arahnya, sosok bermantel jerami itu bergerak gesit dan membentuk lima bayangan klona. Semuanya serentak menyerang Mo Fuchou.

Mo Fuchou menebaskan pedangnya. Kilatan petir bergemeretak, menjelma menjadi sebuah jaring raksasa yang menyelimuti pria bermantel jerami beserta klonanya.

Pria bermantel jerami itu berputar cepat bagaikan pusaran angin hitam, mencabik-cabik jaring petir tersebut secara paksa.

Mo Fuchou tidak panik sedikit pun. Tangan kirinya membentuk segel mantra lalu menghantamkannya ke tanah. Sambaran petir merambat menyusuri permukaan tanah dengan kecepatan yang luar biasa kilat.

Pria bermantel jerami itu baru saja menjejakkan kakinya di tanah ketika kilatan petir seketika melilit tubuhnya, membuat sekujur badannya kejang gemetaran.

Mo Fuchou merangsek maju, bersiap melumpuhkan sang penyerang.

Bum—

Tanah di sampingnya tiba-tiba meledak dahsyat, dan seorang pria bermantel jerami lainnya menerobos keluar dari dalam bumi, mengayunkan bilah pedangnya ke arahnya.

Mo Fuchou mengumpat geram di dalam hatinya. Siapa sebenarnya orang-orang ini?

Berani-beraninya mereka membuat onar tepat di wilayah sekitar Sekte Giok Murni!

Tepat saat ia hendak melancarkan reaksi perlawanan, selembar jimat mendadak mencuat dari dalam tanah di belakangnya dan melekat erat di punggungnya.

Mo Fuchou seketika membeku kaku dan terpaku tak berdaya di tempatnya berdiri.

Puh!

Pria bermantel jerami itu menghunjamkan senjatanya menembus dada Mo Fuchou, darah segar pun muncrat membasahi bilah pedang.

Pupil mata Mo Fuchou membesar didera keputusasaan.

Gawat!

Murid-murid yang lain serentak melangkah mundur. Begitu menyaksikan Mo Fuchou terluka parah bersimbah darah, mereka semua dicekam kepanikan hebat!

“Semuanya, berlutut! Kami hanya berniat menangkap Mo Fuchou. Jika kalian berani mengacau, kalian semua akan mati!” teriak salah seorang pria dengan suara berat menggelegar. Para murid begitu ketakutan hingga kaki mereka lemas tak bertulang bagai agar-agar. Secara naluriah, mereka langsung berlutut pasrah.

Para remaja itu belum pernah menyaksikan pemandangan mengerikan seperti ini seumur hidup mereka. Wajah mereka pucat pasi pasi bagaikan mayat selagi sekujur tubuh mereka gemetar hebat, tak ada satu pun yang berani bersuara.

Mo Fuchou sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia menatap tajam pria di hadapannya dan bertanya dengan suara tertahan, “Siapa kalian sebenarnya?”

“Konstelasi Surgawi Hantu Bumi. Kami adalah bayangan berjas jerami. Sekte Giok Murni telah melakukan kesalahan besar yang tak terampuni. Kami di sini untuk menangkapmu. Yang bisa kukatakan padamu hanyalah malapetaka besar kini tengah menanti sektemu!”

Pria bermantel jerami itu berujar dengan suara rendah dan serak parau.

Mata Mo Fuchou membelalak lebar diselimuti rasa tidak percaya.

Tepat pada detik itu...

Bum!

Tanpa disadari oleh siapa pun, sesosok raksasa telah berdiri menjulang di antara bentangan pegunungan. Tubuh bagian atasnya terselubung oleh hamparan awan tebal, dan puncak-puncak gunung tertinggi di sekitarnya bahkan hanya mampu mencapai batas pinggangnya. Pemandangan itu luar biasa spektakuler dan megah tak terkira.

Di hadapan raksasa ini, setiap insan merasa kerdil tak berarti, bagaikan semut-semut kecil yang tengah mendongak menatap sosok manusia.

Kedua pria bermantel jerami itu begitu dicekam kengerian sampai-sampai kedua tangan mereka gemetar tak terkendali.

Musababnya, sosok raksasa itu mengenakan jubah Daois milik Sekte Giok Murni!

— End of Chapter 37 — — Akhir Chapter 37 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!