Top Tier Providence, Secretly Cultivate for a Thousand Years

Bab 67: Ginseng Spiritual Kuno, Tiga Pilihan Agung Kultivasi!

Released on Oct 23, 2026 • 09:50 • 7 Total Readers

Top Tier Providence, Secretly Cultivate for a Thousand Years

Bab 67: Ginseng Spiritual Kuno, Tiga Pilihan Agung Kultivasi!

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Sudah berapa tahun berlalu!

Akhirnya dia kembali menjumpai sosok lain yang membawa takdir pembawaan lahir (Connate providence)!

Merasa tertarik, Han Jue pun memeriksa latar belakangnya.

[Xun Chang'an: Tingkat ketujuh ranah Foundation Establishment, reinkarnasi dari Ginseng Spiritual Kuno. Di kehidupan sebelumnya, ia dibesarkan oleh kaum Buddhis. Akibat takdir pertaliannya dengan seorang iblis wanita, ia terjerumus ke dalam jerat asmara. Para Dewa dan Buddha murka, lalu menghempaskannya ke alam fana untuk merasakan kesengsaraan emosi dan asmara selama puluhan ribu tahun. Hanya dengan melupakan dirinya sendiri sepenuhnya serta memutus tali perasaannya, barulah ia dapat terbebas dari kepedihan reinkarnasi. Ini merupakan kehidupannya yang ketiga puluh sembilan. Xun Chang'an terlahir di tengah keluarga kultivasi. Kendati berbakat, karena rupa wajahnya yang buruk, ia sama sekali tidak disukai oleh orang-orang terdekatnya. Usai terus-menerus dicemooh oleh sanak kerabatnya, ia patah arang dan mencukur rambutnya untuk menjadi seorang biksu. Tatkala mendengar bahwa Deity Slaying Elder dari Sekte Jade Pure adalah kultivator nomor satu di kolong langit, ia sengaja datang demi mengangkatnya sebagai Guru. Ia berniat mengasingkan diri berkultivasi bersama sang Deity Slaying Elder demi melupakan hiruk-pikuk alam fana. Catatan khusus: Xun Chang'an merupakan wujud Ginseng Spiritual Kuno yang sanggup meningkatkan Energi Spiritual (Spirit Qi) dalam radius tertentu. Hal ini pula yang menjadi musabab mengapa Xun Chang'an memiliki bakat luar biasa.]

Han Jue tertegun.

Reinkarnasi Ginseng Spiritual Kuno?

Dan orang ini sengaja datang mencarinya?

Raut muka Han Jue tampak ganjil. Perhatiannya tertumbuk pada kalimat pamungkas.

Ginseng Spiritual Kuno dapat melipatgandakan Energi Spiritual Langit dan Bumi!

Luar biasa!

Mesin penghasil Energi Spiritual berwujud manusia?

Han Jue menyapukan kesadaran ilahiahnya ke luar.

Xun Chang'an rupanya telah tiba di kaki Gunung Kultivasi Tekun Menjadi Abadi.

Orang ini benar-benar buruk rupa.

Garis-garis parasnya aneh tak keruan. Alisnya menyambung jadi satu, dihiasi beberapa tahi lalat hitam memanjang pada kulit wajahnya. Perawakannya terbilang biasa saja. Ia mengenakan kasaya dengan kepala plontos yang licin berkilat.

Xun Chang'an melangkah menuju sebuah prasasti batu seraya bergumam, "Kultivasi tekun, menjadi abadi… Pastilah ini kediaman gua milik Deity Slaying Elder."

Mata Xun Chang'an berpijar penuh harap tatkala ia berlutut di hadapan prasasti batu tersebut.

Ia menangkupkan kedua tangannya ke depan dan berseru lantang, "Saya, Xun Chang'an, bertekad memohon agar sudi diangkat menjadi Murid sang Deity Slaying Elder!"

Seiring ucapan itu, ia pun mulai bersujud menyentuhkan keningnya ke tanah.

Semenjak sembilan belas sekte dipukul mundur dalam kekalahan telak, sosok Deity Slaying Elder telah diagung-agungkan bak dewa di seantero dunia Kultivator Great Yan. Riwayat legendarisnya berhembus kian kemari.

Selain kekuatannya yang tanpa tanding, hal yang paling masyhur dari dirinya adalah Hati Kultivasinya yang sekeras karang.

Xun Chang'an pernah bersua dengan para murid Sekte Jade Pure. Dari penuturan mereka, sang Deity Slaying Elder sungguhlah seorang petapa sejati. Selain menerobos ranah dan memukul mundur para penyusup, ia tak pernah sekalipun melangkah keluar meninggalkan kediaman guanya.

Xun Chang'an yakin seyakin-yakinnya, hanya sosok inilah yang sanggup mengentaskannya dari kubangan penderitaan batin.

Ia tak sudi lagi merajut asmara.

Ia tak sudi lagi mengenang bayang-bayang wanita itu.

Han Jue mendengar seruan tersebut, namun memilih untuk bergeming.

Kendati Xun Chang'an sanggup meningkatkan limpahan Energi Spiritual Langit dan Bumi, keberadaannya juga rentan memancing prahara.

Han Jue enggan sembrono menerima seorang murid begitu saja.

Tak kunjung menuai jawaban, Xun Chang'an tetap bertahan dalam posisinya yang berlutut.

Musim semi berganti, musim gugur pun tiba.

Nama Xun Chang'an kian santer diperbincangkan di seantero Sekte Jade Pure. Seorang kultivator lepas yang bersimpuh siang malam di depan kaki Gunung Kultivasi Tekun Menjadi Abadi demi diangkat menjadi murid Deity Slaying Elder. Keteguhan tekadnya menjadi buah bibir yang tak henti-hentinya dibahas.

Sesekali, ada saja para murid yang sengaja melintas ke sana sekadar demi melihat rupanya.

Akan tetapi, di bawah peringatan tegas para Elder Sekte Jade Pure, para murid tersebut tak berani berlama-lama singgah di Gunung Kultivasi Tekun Menjadi Abadi.

Hal yang patut dicatat adalah, tak satu pun orang yang datang untuk mengusir Xun Chang'an.

Han Jue menduga klan kultivasi asal Xun Chang'an bukanlah keluarga sembarangan. Bisa jadi Li Qingzi sendiri secara diam-diam telah mengizinkan pemuda itu datang untuk memohon pengangkatan guru.

Semenjak seruan pertamanya, Xun Chang'an tak pernah lagi berteriak.

Ia hanya bersimpuh di depan prasasti batu, sesekali membungkuk bersujud.

Ia berlutut selama lima tahun penuh.

Genap lima tahun lamanya.

Bahkan Xun Chang'an sama sekali tak pernah bangkit berdiri.

Hati Han Jue tersentuh oleh kebulatan tekad tersebut.

Hati kultivasi orang ini sungguh tidak buruk. Seharusnya ia tidak akan memicu kekacauan setelah masuk kemari, bukan?

Pada suatu hari, Mo Zhu datang bertandang.

Sudah beberapa dasawarsa lamanya sejak Han Jue terakhir kali melihat gadis itu. Selama ini Mo Zhu mengurung diri berkultivasi di aula rahasia Sekte Jade Pure.

Han Jue mengibaskan lengan jubahnya, menariknya masuk ke dalam kediaman gua.

Puluhan tahun tak bersua, Mo Zhu tak lagi tampak sepolos dan selugu dahulu. Pancaran auranya kini kian menyerupai bidadari kahyangan.

Ia berbalut jubah hitam pekat, menatap Han Jue dengan sorot mata yang sarat pergulatan rasa.

Han Jue memperhatikan riasan wajahnya, lalu berujar seraya tersenyum tipis, "Nona Mo, apakah kau berniat menyusul jejak kakakmu dan menyeberang menjadi Iblis?"

Mo Zhu menghela napas panjang lantas berujar lirih, "Tepat sekali. Aku berencana angkat kaki dari Sekte Jade Pure, menyusul kakakku demi menuntut balas dendam."

Balas dendam?

Alis Han Jue bertaut rapat. "Sekian tahun telah berselang. Mengapa kau belum juga mampu menanggalkan dendam kesumat itu?"

Ia seketika melepaskan kesadaran ilahiahnya memeriksa keadaan sekitar.

"Kukira aku sudah mengikhlaskannya. Namun sejak aku melangkah di jalan kultivasi, bara kebencian di lubuk hatiku telah bermetamorfosis menjadi iblis dalam diriku (inner demon). Jika aku tak menuntaskannya, jerat iblis itu akan senantiasa membelengguku, membuatku mustahil menembus ranah Nascent Soul. Aku kemari semata-mata untuk mengucap salam perpisahan padamu."

Mo Zhu menarik napas dalam-dalam, lalu menyambung, "Di seantero Sekte Jade Pure ini, selain sanak keluargaku, kaulah sosok yang paling kupedulikan. Dahulu kau pernah menyelamatkan jiwaku, dan kaulah satu-satunya pria yang sanggup menggetarkan palung hatiku."

Kening Han Jue kian berkerut dalam.

Celaka!

Apakah dia hendak menyatakan perasaannya?

"Kukatakan semua ini bukan demi memintamu berbuat sesuatu untukku. Aku tahu betapa teguhnya hasratmu dalam menuntut Dao. Andaikan kelak aku ditakdirkan kembali hidup-hidup, aku bersedia berkultivasi bersamamu, menyusuri jalan Maha Dao nan agung berdampingan." Mo Zhu mengukir senyuman tipis.

"Aku hanya cemas... bila tak kuutarakan sekarang, aku akan dirundung sesal seumur hidup."

Ia bergegas melangkah ke hadapan Han Jue dan hendak mendaratkan sebuah ciuman.

Han Jue tidak mengelak.

Itu hanya sekadar kecupan lembut di pipinya.

Laksana capung yang menyentuh tenang permukaan air.

Mo Zhu menarik diri dengan rona merah merayapi kedua pipinya. Ia berbisik lirih, "Han Jue, jika kelak aku berhasil pulang dengan selamat, sudihkah kau memperistriku?"

Han Jue menanggapi dengan nada datar, "Bukankah saling menemani dalam berkultivasi sudah sangat baik? Perkara ini bisa kita bicarakan lagi setelah kita sama-sama menjadi sosok Abadi."

Senyuman Mo Zhu terkembang kian merekah. Senyum yang begitu elok memikat sukma.

Pria itu tidak menolaknya.

Bagi dirinya, itu sudah lebih dari cukup.

Han Jue tiba-tiba meraih jemari tangannya, membuat Mo Zhu terkesiap heran.

Tatapan matanya menyiratkan harap yang membuncah.

Namun sesaat kemudian, Han Jue segera melepaskan genggamannya.

Ia hanya menanamkan Lambang Enam Jalur (Six Paths Insignia) miliknya ke dalam jiwa gadis itu. Lantaran jurang perbedaan ranah kultivasi mereka terlampau renggang, Mo Zhu sama sekali tak mampu merasakannya.

"Cukup sampai di sini," tukas Han Jue tanpa riak ekspresi.

Mo Zhu mengangguk pelan, lantas berbalik melangkah pergi.

Tepat saat tubuhnya berpaling, air mata serasa hendak tumpah membasahi pipinya.

Entah apakah mereka masih ditakdirkan untuk bersua kembali.

Mengapa ia tak menahanku untuk tetap tinggal…

Mengapa ia tak beranjak menyertaiku pergi…

Pikiran-pikiran gundah semacam itu mau tak mau terlintas di benak Mo Zhu.

Namun ia bergegas memantapkan hatinya kembali. Bagaimanapun juga, inilah jalan berliku yang telah dipilihnya sendiri.

Akan tetapi, baru saja menginjakkan kaki keluar dari Kediaman Gua Connate, Mo Zhu langsung diringkus.

Benar sekali.

Ia langsung dicegat dan ditangkap oleh Taois Jingxu dan Li Qingzi.

Hendak berkhianat membelot dari sekte?

Jangan harap!

Tatkala gadis itu baru saja mengutarakan niatnya tadi, Han Jue sudah langsung melayangkan transmisi kesadaran ilahiah kepada Li Qingzi.

Mana berani Li Qingzi membiarkan Mo Zhu membelot dari sekte? Bukankah ulah Mo Fuchou dan Zhou Fan tempo hari sudah cukup menyulut segudang petaka bagi sekte?

"Han Jue!" jerit Mo Zhu dengan suara sarat kepahitan dan kekecewaan.

Detik berikutnya, ia langsung digelandang pergi oleh Li Qingzi beserta rekannya.

Han Jue secara khusus telah mewanti-wanti Li Qingzi agar tidak memperlakukannya dengan kasar, sembari memintanya menyediakan tempat yang layak untuk mengurung Mo Zhu agar ia bisa tenang berkultivasi.

Li Qingzi mengangguk paham penuh pengertian.

Di balik kerimbunan semak belukar, seekor ayam hitam berbadan tambun mencibir sinis, "Berniat memangsa Tuanku? Bermimpilah kau di siang bolong, wanita murahan!"

Han Jue tak ingin membuang waktu memikirkan hal itu berlarut-larut, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Xun Chang'an di kaki gunung.

Orang ini telah bersujud dan berlutut selama lima tahun penuh. Tak ada ruginya mengangkatnya sebagai murid. Setidaknya ia tak akan keluyuran ke mana-mana.

Asalkan ia tetap mendekam di atas gunung menemaninya berkultivasi, segalanya tak akan memicu perkara rumit.

Han Jue mengibaskan lengan jubahnya, seketika memindahkan Xun Chang'an ke dalam kediaman gua.

Xun Chang'an terperangah linglung sejenak, namun tubuhnya masih tetap bertahan dalam posisi berlutut di tanah meski tampak terhuyung-huyung kepayahan.

Walaupun ia adalah seorang kultivator ranah Foundation Establishment, berlutut tanpa henti selama lima tahun tetaplah siksaan fisik yang nyaris tak tertanggungkan.

"Mengapa kau belum juga memanggilku Guru?" tegur Han Jue dengan nada dingin menusuk.

Xun Chang'an sontak mengangkat kepalanya menatap Han Jue.

Astaga.

Parasnya benar-benar buruk bukan kepalang.

Dilihat dari jarak sedekat ini, guncangan visualnya sungguh terasa luar biasa dahsyat.

Xun Chang'an seketika tersentak sadar seutuhnya. "Deity… Slaying Elder?"

Tanpa membuang tempo, ia buru-buru membenturkan kepalanya ke lantai bersujud ke hadapan Han Jue.

"Murid Xun Chang'an menghaturkan sembah salam kepada Guru!"

"Murid Xun Chang'an menghaturkan sembah salam kepada Guru!"

"Murid Xun Chang'an menghaturkan sembah salam kepada Guru!"

Air mata haru Xun Chang'an tumpah ruah. Lima tahun! Genap lima tahun ia bersujud menanti saat ini!

Mendadak, empat larik aksara bercahaya terbentang di hadapan tatapan Han Jue.

[Anda telah mengumpulkan tiga murid yang membawa takdir pembawaan lahir (Connate providence). Takdir keberuntungan Anda telah meningkat. Arah jalan kultivasi Anda mengalami perubahan. Anda memiliki pilihan berikut:]

[1: Jalan Pedang Abadi (Sword Immortal). Memasuki Dao berlandaskan pedang. Usai menembus Ranah Mahayana, Anda dapat naik tingkat (ascend) menuju Alam Abadi dan menjadi sosok Pendekar Pedang Abadi yang bertahta melampaui Langit Surgawi.]

[2: Jalan Enam Jalur Reinkarnasi (Six Paths of Reincarnation). Memanfaatkan mantra gaib untuk mendobrak gerbang Dao. Usai merengkuh ranah Mahayana, Anda dapat melangkah ke alam baka dan dinobatkan menjadi Pedang Abadi Hantu (Ghost Sword Immortal).]

[3: Jalan Pedang Abadi Reinkarnasi (Sword Immortal of Reincarnation). Mengembangkan Dao Pedang sekaligus Dao Reinkarnasi secara beriringan. Anda dapat meloloskan diri melampaui Tiga Alam serta berkelana bebas tanpa batas di antara lima elemen.]

— End of Chapter 67 — — Akhir Chapter 67 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!