Became the Patron of Villains

Bab 45

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 37 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 45

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Lima hari kemudian.

Kabar bahwa Kalman dan Malian—keduanya bergelar Baba Yaga—telah mengincar nyawa Seolrang menyebar dengan pesat ke seantero koloni.

Berkat kesaksian Liyan Aguileras, putri Tuan Menara Merah, serta para tentara bayaran yang selamat dari serangan tersebut, kabar ini langsung menyita perhatian khalayak luas.

Masyarakat teramat murka mendapati kenyataan bahwa dua orang Baba Yaga telah bekerja sama secara pengecut demi menumbangkan sesama Baba Yaga.

Buntutnya, mereka merobohkan dan menghancurkan patung Kalman serta Malian yang telah lama berdiri tegak di bagian timur koloni.

Senada dengan itu, serikat-serikat yang berafiliasi dengan kedua Baba Yaga tersebut segera membubarkan diri, dan hanya dalam hitungan hari, seluruh jejak Malian dan Kalman lenyap tak berbekas dari koloni.

Sebagai gantinya, Seolrang mengambil alih takhta kehormatan itu.

Meski sempat disergap secara licik oleh Malian dan Kalman, Seolrang tidak hanya berhasil bertahan hidup, tetapi juga menumpas mereka berdua, lalu kembali dengan sambutan dukungan rakyat yang luar biasa masif.

Seiring kesaksian putri Tuan Menara Merah dan para tentara bayaran yang kian terbukti kebenarannya, popularitas Seolrang melambung tinggi ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Masyarakat bahkan mulai menjuluki Seolrang sebagai "Baba Yaga Pertama", menggeser Kalman yang telah menyandang gelar tersebut paling lama.

Selain itu, Count Palatio, yang tersiar kabar telah berjasa besar membantu Seolrang menghadapi kedua Baba Yaga tersebut, turut menuai sorotan yang luar biasa besar.

Saat ini, ia kembali berada di kota Kahara yang terlupakan, memeriksa sesuatu di ujung timur terjauh—tempat yang belum sempat ia sambangi tempo hari.

Ia tengah memandangi sebuah prasasti di loh batu timur.

“Hmm.”

Alon, yang telah merampungkan membaca seluruh deretan kata di loh batu tersebut dalam kurun waktu yang bisa dibilang panjang sekaligus singkat, tiba-tiba tertegun oleh sebuah tanda tanya.

‘Tunggu sebentar... Bagaimana bisa aku membaca tulisan ini?’

Aksara yang terpahat di loh batu tersebut bukanlah bahasa umum benua, namun kendati terasa asing, Alon dapat menguraikan maknanya secara alami.

Seolah-olah sejak awal ia memang sudah mampu membacanya.

Dengan raut heran bercampur bingung, Alon memutuskan untuk singgah di menara pusat dan menanyakan perihal ini sebelum beranjak kembali.

Sembari membalikkan badan dan melangkah, ia mengingat kembali isi tulisan yang baru saja dibacanya dari loh batu tersebut.

‘…… Tentang dewa asing dan dewa-dewa sejati.’

Loh batu timur—yang direkomendasikan oleh sosok misterius tempo hari dengan perkiraan bahwa tempat ini dapat memberinya gambaran kasar atas apa yang sesungguhnya terjadi—memuat kisah-kisah yang bertaut dengan dewa asing dan para dewa.

Namun, yang menarik perhatiannya adalah adanya bagian-bagian yang sedikit berseberangan dengan informasi yang ia ketahui selama memainkan Psychedelia.

“……Mengapa di sini gambaran tentang dewa asing dan dewa justru terbalik?”

Di dalam Psychedelia, perbedaan antara dewa asing dan dewa terpeta dengan sangat gamblang.

Dewa asing merujuk pada dewa-dewa yang asalnya bukan dari benua ini, melainkan entitas ilahi yang terlahir dari keyakinan manusia atau berasal dari alam lain.

Sebaliknya, dewa adalah makhluk-makhluk agung yang telah eksis sejak permulaan zaman, kala benua ini masih berupa kehampaan mutlak.

Sejauh pemahaman Alon, lima dosa besar disebut sebagai dewa dalam Psychedelia, sedangkan entitas dewa mengerikan yang ia jumpai di utara tergolong sebagai dewa asing.

Akan tetapi, pada loh batu ini, istilah tersebut justru bertolak belakang—apa yang dikenalnya sebagai "dewa asing" di sini disebut "dewa", sementara lima dosa besar justru dilabeli sebagai "dewa asing".

Tentu saja, loh batu itu tidak secara gamblang menyebut nama lima dosa besar ataupun dewa asing.

Melainkan, para dewa di loh tersebut dilukiskan lewat metafora seperti “mereka yang menjunjung tinggi kehormatan”, “mereka yang mencari kematian yang terlupakan”, atau “mereka yang menyelami misteri sihir terlampau dalam”.

Namun, berkat pengalamannya memainkan Psychedelia berkali-kali, Alon tahu persis kepada siapa kiasan-kiasan itu dialamatkan.

Ia pun paham betul bahwa metafora seperti “dia yang bertangan banyak” dan “dia yang dipenuhi keserakahan serta kedengkian” merujuk langsung pada lima dosa besar.

“Hmm—”

Alon merenung sejenak sebelum melipat rapi informasi tersebut di dalam benaknya.

Terlepas dari kenyataan bahwa sebutan "dewa asing" ditukar dengan "dewa" dan sebaliknya, informasi yang ia rengkuh dari loh batu tidaklah bertentangan dengan apa yang telah ia ketahui.

Hal ini lantaran kisah-kisah yang dominan dituturkan dalam ‘Psychedelia’ adalah rentang peristiwa masa depan, bukan masa silam.

‘Kuharap aku bisa menanyakan hal ini juga padanya.’

Alon merangkum isi prasasti di dalam pikirannya selagi ia melangkah menuju menara pusat.

***

Namun pada akhirnya, Alon tidak dapat bersua kembali dengan 'entitas' itu.

Musababnya, pintu yang semula bertengger di pusat menara ketika ia pertama kali tiba di kota ini telah sirna, seolah tidak pernah ada di sana sedari awal.

Ia sempat menimbang untuk mendobrak masuk dan memanjat ke atas, tetapi ia ragu akan mampu menjumpai 'entitas' itu meski melakukannya, sehingga ia memilih untuk beranjak pergi.

“Guru!”

Begitu ia menjejakkan kaki ke luar, suara sambutan yang begitu bersemangat langsung menyongsongnya—siapa lagi kalau bukan Seolrang.

Seolrang, yang rautnya sempat tampak jemu kala menunggu, langsung berseri-seri begitu sosok Alon menampakkan diri.

Kini, saat Alon telah duduk berdampingan dengannya di dalam kereta kuda, ia mendengarnya kembali:

“Ayo kita menikah?”

Itu adalah lamaran ke-19 yang ia lontarkan dalam lima hari terakhir, meninggalkan raut serba salah di wajah Alon.

Menghadapi Seolrang yang menumpangkan kedua telapak tangannya di atas lutut sang pemuda, Alon menyadari bahwa jarak di antara mereka kian terkikis seiring berlalunya hari.

Tentu saja, bukan Alon yang mendekat—melainkan Seolrang yang terus mengikis jarak tersebut.

“Hm?”

Seolrang menegakkan telinganya lalu memiringkan kepalanya sedikit.

Menyaksikan ekor gadis itu bergoyang-goyang lincah di belakangnya, Alon mengembuskan napas pelan.

Mulanya, hal itu terasa menghangatkan hati, bagai seorang putri mungil nan menggemaskan yang merajuk, “Aku mau menikah dengan Ayah!” Namun kini, situasinya mulai terasa sedikit merepotkan.

“…………Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku menganggapmu sebagai keluarga.”

Ini adalah respons ke-19 miliknya.

“Tapi kita bukan keluarga ‘sungguhan’!”

Dan itu adalah bantahan ke-19 milik Seolrang.

“Kalau kita menikah, semua masalah akan beres!”

“Masalah apa?”

“Kita akan menjadi keluarga sejati!”

Alon, memandangi wajah Seolrang yang memancarkan ekspresi bak seseorang yang tengah membatin, ‘Aku memang genius!’, tak kuasa merasa bahwa percakapan ini kian menyerupai perulangan dialog yang membosankan di dalam permainan.

“Apakah kau bahkan tahu apa arti menikah itu sesungguhnya?”

Alon, bertekad memajukan percakapan ini barang sedikit, melontarkan pertanyaan tersebut setelah mereka tiba pada kesimpulan buntu yang sama untuk ke-19 kalinya.

“Tentu saja! Aku yakin bisa membuat Guru bahagia!”

Namun, menyadari bahwa sekalipun perbincangan ini dilanjutkan ujung-ujungnya hanya akan berputar kembali ke titik awal, ia menghela napas panjang.

“Seolrang, pernikahan adalah perkara yang teramat serius. Renungkanlah lebih dalam lagi.”

“Aku ‘memang’ serius!”

“……Pikirkan jauh lebih serius lagi.”

Dengan kalimat pamungkas itu, ia menutup mulutnya rapat-rapat.

Untuk saat ini, Alon sama sekali tak berniat menjalin ikatan pernikahan dengan siapa pun.

Ditambah lagi, kendati bukan ia sendiri yang membesarkannya sedari kecil, Alon tetap memandang Seolrang layaknya seorang putri yang amat ia sayangi.

‘Dia pasti akan berhenti mengocehkan hal-hal seperti ini setelah beberapa tahun berlalu.’

Waktu bergulir, dan tatkala bibir mengerucut Seolrang akibat ditolak berkali-kali mulai mereda, mereka telah tiba kembali di koloni.

Alon bergegas bersiap untuk bertolak.

Sebenarnya ia lebih suka berangkat agak belakangan, namun menimbang bahaya perlintasan gurun, jauh lebih aman untuk bepergian bersama rombongan karavan dagang yang berangkat pada jadwal tertentu.

Hingga tibalah saatnya.

“Sampai jumpa lagi lain waktu.”

“Baik! Guru harus memberiku jawaban saat itu nanti!”

“……Tentu.”

Meninggalkan sebaris janji yang terasa bagai angin lalu, Alon pun melangkah pergi meninggalkan koloni.

***

Seolrang menatap kepergian Alon dan rombongan pedagang yang kian menjauh ditelan cakrawala, dan baru membalikkan badan menuju serikat tatkala kereta kuda itu benar-benar lenyap dari pandangan.

Gedung serikat—tempat Ralga dan anggota klan pengkhianatnya telah disingkirkan—tampak tak banyak berubah.

Tindakan khianat Ralga telah menyulut kemurkaan klan yang telah dihimpun oleh Seolrang, dan banyak di antara mereka yang benar-benar mencemaskan keadaannya, terpukul oleh kepalsuan tersebut.

Serikat ini, yang menurut Seolrang perlahan menjelma menjadi wadah impian yang dulu ia angan-angankan, semestinya menghadirkan rasa puas di relung hatinya.

‘Semestinya.’

“Haa—”

Seolrang mengembuskan desah napas perlahan.

Bukannya menyunggingkan senyuman manis yang biasa menghiasi wajahnya, paras gadis itu kini hampa tanpa ekspresi.

Penyebabnya adalah seberkas kesadaran yang baru saja ia rengkuh dari kemelut ini.

Betapapun kerasnya ia berusaha, ia takkan pernah bisa merengkuh kembali kebahagiaan yang pernah ia rasakan di masa belia dulu.

“Bukan ini yang kuinginkan.”

Gumam datar Seolrang menggema lirih menyusuri ruangan yang lengang.

Terdengar biasa saja, namun sejatinya, terselip nada getir nan murung di balik suaranya.

Kesadaran bahwa kebahagiaan yang ia dambakan lewat pembentukan sebuah "keluarga" hanyalah fatamorgana semata menyisakan kehampaan mendalam di hatinya.

Dahulu ia benar-benar meyakini bahwa jika ia mengumpulkan kembali klannya dan memulihkan segalanya seperti sedia kala, ia akan dapat merasakan kebahagiaan itu sekali lagi.

Namun, di tengah belitan rasa kehilangan tersebut, seulas senyuman mulai merayap di parasnya—dan itu semua bermuara pada satu sosok.

Alon.

Pada detik itu, Seolrang mengenang kembali bagaimana kala Kalman menyerang, Alon memercayainya sepenuh hati dan berdiri tegak tanpa beringsut selangkah pun, merapal sihirnya dengan penuh keyakinan.

Ia pun teringat bagaimana tatkala Ralga melancarkan serangan kejutan yang mematikan, Alon melemparkan raganya tanpa ragu sedikit pun demi melindunginya.

Pria itu telah memperlihatkan padanya sosok keluarga yang ideal—bukan lewat untaian kata-kata manis, melainkan melalui tindakan nyata—bagai rembulan agung yang senantiasa memandu jalannya.

Ekor Seolrang bergoyang riang penuh binar kebahagiaan.

Hanya dalam kurun sepekan yang ia lewati bersama sang rembulan agung, ia telah melihat secercah jalan menuju "kebahagiaan" yang gagal ia temukan di dalam klan yang dikumpulkannya selama dua tahun lamanya.

Titah jalan menuju kebahagiaan sejati yang dicarinya.

Tentu saja, pria itu memang belum menjadi keluarganya saat ini, namun itu bukanlah perkara besar.

Bila ia ‘belum’ menjadi keluarga, maka yang perlu ia lakukan hanyalah menjadikannya keluarga sejati.

“Aku ingin menikah dengannya~”

Seolrang menggumamkan kembali kalimat yang telah ia ucapkan berkali-kali sebelumnya, kini diiringi senyuman riang yang merekah di wajahnya.

Jantungnya berdegup kencang membayangkan kebahagiaan yang akan ia rengkuh kembali manakala sang rembulan agung telah resmi menjadi bagian dari keluarganya.

Sayangnya, Seolrang pun sadar bahwa angan tersebut tak mungkin terwujud dalam sekejap mata.

Untuk saat ini, ia masih mengemban mandat untuk membentuk pasukan pengawal pribadi yang bertugas melindungi sang rembulan agung dan mengabdi padanya.

“……”

Sejatinya, sedari awal Seolrang tidak terlalu memusingkan tugas tersebut.

Ia mengira bahwa asalkan ia mengumpulkan cukup banyak anggota klan, tugas yang diamanatkan oleh sang rembulan agung akan terselesaikan dengan sendirinya.

Namun kini, segalanya telah berubah.

Baginya, sang rembulan agung bukan lagi sekadar seorang Guru semata—ia telah menjelma menjadi sosok yang teramat berharga dan tak tergantikan.

Oleh sebab itu, ia harus.

‘Menciptakannya.’

Seolrang meneguhkan tekadnya.

‘Bagaimanapun keadaannya, sepasukan pengawal pribadi yang mampu melindunginya dari marabahaya apa pun.’

Sepasang mata emasnya berkilat tajam penuh kebulatan tekad.

***

Malam hari setelah keberangkatan Alon dari koloni.

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah memeriksanya?”

“Maksud Tuan orang-orang di serikat Seolrang? Saya sudah memeriksa semuanya, dan selain Ralga beserta mereka yang telah dibereskan tempo hari, tidak ada seorang pun yang menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.”

Mendengar laporan dari Evan, Alon mengangguk pelan.

Usai kembali dari reruntuhan, Alon telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh melalui serikat informasi untuk mencari tahu apakah masih ada sosok mencurigakan lain di dalam serikat Seolrang yang serupa dengan Ralga.

Alasannya sederhana saja: akan menjadi masalah besar andai Seolrang sampai terluka lagi.

‘Sebisa mungkin aku ingin menghindari komplikasi yang tak perlu.’

Kejadian sekali mungkin masih bisa diatasinya, namun ia tak yakin segalanya akan baik-baik saja bila musibah serupa terulang kembali. Karenanya, Alon berniat memangkas setiap potensi masalah sedini mungkin.

“Baguslah kalau begitu.”

“Dan berkat dana yang Tuan berikan, saya sudah menginstruksikan mereka untuk terus memberikan laporan berkala mengenai setiap perkembangan baru yang mungkin timbul.”

“Kerja bagus.”

Usai menyahuti Evan, Alon akhirnya merasa bahwa urusannya di koloni sebagian besar telah tuntas. Ia menghela napas panjang sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding kereta.

Kendati tampak seolah semua tugas telah rampung, sayangnya, urusannya belum sepenuhnya selesai.

‘…Masih ada satu dewa asing lagi yang harus dihadapi…’

Ditambah lagi, wawasan baru yang baru saja direngkuhnya terus menari-nari di pelupuk pikirannya.

Mulai dari peran dewa asing dan para dewa yang tertukar, hingga pernyataan sang entitas misterius mengenai *tatanan*.

Namun di atas segalanya.

“‘Sulli’ (順理).”

Alon mengenang kembali sekelumit serpihan kebenaran tersembunyi mengenai dunia ini—sesuatu yang sama sekali belum pernah ia dengar ataupun jumpai selama melanglang buana di ranah Psychedelia.

‘Apakah akhirnya sudah tiba saatnya untuk pergi ke sana?’

Ia terus terhanyut dalam renungan, mengingat kembali destinasi penuh pahatan prasasti tak terhitung jumlahnya yang telah lama ingin ia kunjungi.

Tepat pada saat itu.

[Aku]

Di dalam pertemuan rutin yang wajib dihadiri oleh segenap anggota Bulan Biru, termasuk mereka yang berada di koloni, suasana yang tadinya tenteram dan damai tiba-tiba saja—

[Aku akan menikah dengan sang rembulan agung!!]

[A-apa….?]

[…]

—langsung tersapu oleh badai dahsyat.

Sebuah prahara badai yang teramat mengguncang.

— End of Chapter 45 — — Akhir Chapter 45 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!