Became the Patron of Villains
Bab 74
Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.
Sekitar satu pekan lima hari telah berlalu sejak mereka meninggalkan koloni.
“Kalau begitu, saya menantikan pertemuan kita berikutnya, Tuan Count!”
“Tentu saja.”
Meninggalkan kepala saudagar yang membungkuk sedemikian dalamnya hingga tubuhnya tertekuk bagai map, Alon memutuskan untuk kembali ke kediaman Count Palatio terlebih dahulu. Pasalnya, ia tak mungkin membawa serta kereta barang berisi harta rampasan dari koloni tersebut dalam perjalanan berikutnya.
Maka dari itu, ia memutar haluan ke kediaman Count, menyimpan kedua kereta muatannya, lalu bergegas bertolak menuju Lartania.
Seandainya jalur menuju Lartania bertolak belakang dengan rute menuju Raksas, niscaya ia akan langsung melaju ke tujuan tanpa ragu. Beruntung, Lartania terlintas searah di tengah rute menuju Raksas.
Kendati memutar rute bukanlah jalan pintas terpendek, ia rela melakoninya dan kembali memulai penjelajahan baru.
Lima hari kemudian…
“Tuan Count.”
Tatkala Alon tengah melamun menatap tenangnya hutan yang terbentang santai, Evan yang sedang mengendalikan kereta kuda tiba-tiba bersuara.
“Ada apa?”
“Bukan hal luar biasa, tetapi belakangan ini Anda tampak sedang memikirkan sesuatu.”
“Terlihat seperti itu?”
“Benar, akhir-akhir ini Anda cukup sering tenggelam dalam lamunan, bukan?”
Alon terdiam sejenak sebelum menanggapi celoteh Evan.
“Sepertinya memang begitu.”
“Apakah ini perkara hal yang pernah Anda singgung sebelumnya? Bahwa ada sesuatu yang sedang Anda pikirkan?”
Mendengar ucapan Evan, Alon membatin, ‘Ya, itu sebagian di antaranya.’ Kendati demikian, perkara yang menyita pikiran Alon akhir-akhir ini sejatinya tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan ataupun iman.
Tentu saja, ia penasaran mengapa dirinya mendadak memiliki kapasitas untuk mengendalikan kekuatan tersebut. Namun, kepingan informasinya teramat minim untuk sekadar direnungkan atau disimpulkan seorang diri. Saat ini, fokus Alon bukan terarah pada keyakinan, melainkan pada patah kata terakhir yang diucapkan oleh keturunan naga itu.
“…Dua kemungkinan.”
Ia mengenang kembali perbincangan tentang sihir bersama keturunan naga kala itu.
“Sebagaimana yang Tuan tahu, sihir seorang penyihir pada hakikatnya membutuhkan ‘imajinasi’ untuk dirapal. Ini adalah hukum kodrat dan kebenaran mutlak, sepasti dan sealami matahari yang terbit lalu terbenam. Kendati demikian, Tuan tampak mengabaikannya begitu saja tanpa kesulitan.”
Alon teringat bagaimana makhluk keturunan naga itu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang tajam serta ganjil, amat berbeda dari jemari manusia.
“Hukum alam bersifat kekal. Tak bisa diubah dan tak boleh diubah. Karena itulah, menurut hemat saya, keberadaan Tuan jatuh pada salah satu dari dua kemungkinan.”
“Pertama, Tuan yang kini berdiri di hadapan saya adalah sesosok eksistensi yang melampaui batas imajinasi saya.”
“Dan kemungkinan lainnya, Tuan sekadar tidak mengingatnya.”
Mengingat kembali kalimat perpisahan dari keturunan naga itu, Alon mendecakkan lidah.
‘Bagaimanapun aku memikirkannya, tak satu pun yang terdengar masuk akal.’
Sudah barang tentu Alon bukanlah sosok nir-manusia. Andaikan dugaannya benar seperti yang diutarakan keturunan naga itu, sedari awal ia tak perlu bersusah payah meraba jalan seperti ini.
Namun, kemungkinan kedua perihal ‘ingatan’ pun tidak beresonansi dalam benak Alon. Ia tak pernah hidup pada Zaman Dewa-Dewa yang Terlupakan, era ketika para penyihir dikabarkan eksis. Bahkan di dalam game sekalipun, Zaman Dewa-Dewa yang Terlupakan hanyalah sebatas latar cerita, sementara bait-bait Babilonia dan ras manusia binatang sekadar sarana peningkat daya serang sihir yang tak pernah dikupas tuntas.
Dengan kata lain, secuil pemahaman Alon mengenai imajinasi pun baru ia peroleh berkat perbincangannya dengan sang keturunan naga.
Walhasil, ketika Alon sempat menanyakan apakah ada kemungkinan lain, keturunan naga itu menegaskan tanpa ragu bahwa tidak ada opsi selain dua perkara tadi.
‘Mengapa seiring berjalannya waktu, alih-alih mengungkap kebenaran yang tersembunyi, aku justru dihadapkan pada semakin banyak ketidaktahuan?’ Alon menghela napas pendek, lalu mengedikkan bahu. Menurut penuturan keturunan naga, saat ia kelak tiba di Raksas, barulah ia dapat menyaksikan kebenaran hakiki dunia ini.
Tentu saja, baginya, menyaksikan kebenaran dunia tidaklah sepenting menakar apakah kebenaran tersebut akan mendatangkan marabahaya bagi dunia. Bagaimanapun, cita-cita pamungkasnya—baik dahulu maupun sekarang—hanyalah menjalani hidup yang damai dan tenteram.
“Hidup yang damai…”
Mendengar gumaman pelan Alon di sela derit roda kereta yang berputar, Evan kembali menyeletuk.
“Apakah Tuan menghendaki kehidupan yang damai?”
“Tepat sekali.”
“…Bagi seseorang yang menginginkan hal itu, kehidupan Anda tampaknya tidak begitu damai.”
“Aku hanya sedang agak sibuk untuk saat ini.”
“Saya rasa keadaannya pun tidak akan banyak berubah beberapa tahun ke depan…”
Alon urung membalas. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu perkataan Evan tidak sepenuhnya keliru.
“Evan.”
“Ya, Tuan?”
“Untuk makan malam nanti, kau makan ubi jalar saja.”
“…Apa?”
Namun, memikirkan dan mengucapkannya adalah dua hal yang berbeda. Maka Alon, dengan guratan jengkel yang samar, memalingkan pandangannya ke luar jendela kereta. Bertolak belakang dengan kekeruhan hati Alon, panorama di luar membentang begitu damai seperti sedia kala. Suatu hari yang dinaungi lembayung senja yang temaram.
***
Beberapa hari kemudian, setibanya di Lartania, Alon memutuskan untuk singgah di sebuah toko terdekat guna membeli cenderamata yang pantas sebelum bertolak menuju kediaman Merd. Ia memang tidak berharap penilaian artefak itu diberikan cuma-cuma, tetapi ia memegang teguh etika bertamu bahwa membawa satu dua buah tangan adalah tata krama yang wajar. Terlebih, ia masih menyayangkan dirinya yang tak sempat membawa bingkisan saat terburu-buru keluar demi menangani sang Dewa Luar pada waktu lalu.
Mengingat kembali pena bulu yang sudah aus di ruang kerja Rine, Alon melangkah masuk ke sebuah toko untuk membelikannya yang baru. Di tengah pencariannya akan barang yang tidak terlalu mencolok namun tetap berkelas, telinganya menangkap desas-desus yang tengah hangat diperbincangkan.
“Kau sudah dengar kabarnya?”
“Kabar apa?”
“Salah satu anggota Triumvirat tewas lagi.”
“Aku juga mendengarnya. Maksudmu ‘Vima’, kan?”
“Tepat, dia orangnya.”
“Hmm, menilik tumpukan suap yang ia kantongi, dia memang pantas menerimanya… Namun dengan tewasnya Riet, anggota Triumvirat yang lain…”
“Kini tinggal Rine seorang. Itulah mengapa suasananya jadi begitu gempar.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Aku mendengarnya dari selentingan kabar, tetapi rumor yang beredar menyebutkan bahwa dialah yang membantai seluruh anggota Triumvirat lainnya.”
“Demi apa? Bagaimana rumor semacam itu bisa merebak?”
“Pemicu pastinya belum jelas, tetapi mereka bilang sempat terjadi perselisihan sengit belum lama ini. Konon, ada yang berani menghina ayah angkatnya—”
“…??”
Benar-benar desas-desus yang cukup meresahkan.
***
Deus Macallian, sosok yang tersohor sebagai Pedang Kedua di antara Lima Pedang Caliban, menyandang ketenaran yang luar biasa di seantero negeri. Kendati tidak tercatat resmi dalam arsip kekaisaran, kabar bahwa dirinya telah menundukkan Reinhardt sudah menjadi rahasia umum bagi khalayak Caliban.
Di balik reputasinya yang gilang-gemilang dan kharisma yang mengintimidasi, beredar bisik-bisik di balik layar perihal ketertarikannya yang mencurigakan terhadap sihir, padahal ia menyandang gelar Ksatria Master. Bahkan segelintir orang mengklaim bahwa saat melatih pedang di larut malam, ia sesekali mengambil kuda-kuda yang ganjil lalu menirukan rapalan sihir manakala tak ada sepasang mata pun yang mengawasi…
Meski demikian, keagungan nama Deus Macallian terlampau digdaya hingga desas-desus aneh semacam itu tak sanggup mencoreng wibawanya. Kendati begitu, tak semua pihak memandang kondisi ini dengan mata berbinar. Salah satu sosok yang memendam rasa skeptis itu adalah sang Pangeran Caliban.
Pangeran Tyrian, pangeran kedua Caliban sekaligus putra Raja Palmaryan IV, sama sekali tidak senang dengan situasi yang bergulir saat ini. Pangkal masalah utamanya tiada lain adalah permusuhan berdarah antara dirinya dengan Deus Macallian. Tentu saja, keretakan hubungan tersebut sepenuhnya merupakan ulah sang pangeran sendiri.
Berseberangan dengan pangeran pertama yang dinilai layak mewarisi takhta, Tyrian kadung dicap sebagai biang onar di istana. Dahulu, ia pernah mencoba menggoda adik semata wayang Deus Macallian dengan kalimat-kalimat vulgar dan tak senonoh. Akibat perbuatannya, ia menelan aib besar dalam duel resmi yang direstui oleh titah sang raja, di mana tubuhnya dihajar habis-habisan tanpa ampun. Sejak peristiwa berdarah itu, Tyrian menaruh dendam kesumat yang membara terhadap Deus.
“Cih.”
Meskipun enggan mengotori pikirannya dengan bayang-bayang Deus, hari ini benak Tyrian mau tak mau tertuju pada pria itu lantaran sepucuk permintaan rahasia yang baru saja ia terima. Titipan pesan itu menuntutnya untuk melancarkan tekanan politik terhadap Count Palatio.
Memenuhi permintaan tersebut sejatinya bukanlah perkara rumit—malah, hal itu merupakan keharusan bagi Tyrian. Di balik tabiatnya yang masyhur buruk, Tyrian masih sanggup mempertahankan faksi kekuasaannya berkat sokongan “barang” yang dipasok oleh sang pengirim permintaan.
Terlebih lagi, permintaan itu sendiri bukanlah misi yang memberatkan. Menekan Count Palatio secara politik tanpa dasar memang terbilang berisiko bagi Tyrian. Bagaimanapun, Count Palatio adalah bangsawan berdaulat dari Kerajaan Asteria, bukan warga Caliban. Kendati Caliban dan Asteria bernaung di bawah panji konfederasi yang sama, mencampuri urusan bangsawan negara tetangga secara serampangan tetaplah perkara yang amat sensitif.
Kendati demikian, ada satu alasan mengapa Tyrian menganggap tindakan menekan Count Palatio sebagai perkara enteng: sang pengirim surat telah melampirkan informasi yang masuk akal, sedemikian rupa sehingga tekanan yang dilancarkan oleh sang pangeran kedua Caliban akan tampak wajar dan berdasar di mata publik.
Dengan kata lain, Tyrian dapat melancarkan tekanan terhadap Count Palatio tanpa perlu menanggung risiko politik yang berarti. Lebih dari itu, langkah ini akan membuat sang pengirim surat berutang budi padanya.
Masalah pelik yang sesungguhnya justru berpangkal pada keintiman hubungan antara Count Palatio dan Deus Macallian. Lebih tepatnya, sungguh merisaukan melihat betapa Deus Macallian tampak begitu mengagumi dan menyayangi Count Palatio di luar batas kewajaran.
“Hmph…”
Tyrian tahu betul bahwa dalam setiap pertemuan Lima Pedang, manakala topik perbincangan menyenggol ihwal penyihir, Deus niscaya akan segera menceracau tentang keagungan Count Palatio hingga hampir satu jam lamanya. Tyrian mengetahui rincian ini lantaran ia rutin menerima laporan berkala dari salah satu pedang yang bersekutu dengan faksinya. Belakangan ini, Deus bahkan kerap melontarkan pujian tiba-tiba bagi Count Palatio sembari bergumam, “Mengapa sosok Count Palatio selalu terlintas di benakku?”
Kenyataan ini menjerumuskan Tyrian ke dalam dilema. Menentang Count Palatio sebenarnya bukan perkara besar jika dibandingkan dengan keuntungan menggiurkan yang menanti di depan mata. Bagi Tyrian yang mendendam lumat pada Deus, ini adalah peluang emas untuk meremukkan sosok yang amat dipuja oleh lawannya itu.
Kendati demikian, Tyrian masih didera keraguan. Ia tak bisa mereka-reka tindakan nekat apa yang bakal dilancarkan Deus Macallian begitu kabar pergerakan ini sampai ke telinganya. Di balik segala kemasyhurannya, Deus sejatinya tak ubahnya anjing gila.
Usai menimbang-nimbang sekian lama, Tyrian akhirnya membulatkan tekad.
‘Segila apa pun dia, mustahil dia berani bertindak gegabah.’
Senyum licik tersungging di bibir Tyrian. Satu-satunya alasan mengapa Deus Macallian sanggup menghajar dan mempermalukannya dahulu semata-mata karena pria itu mengantongi pembenaran yang sah. Tanpa adanya alasan yang adil dan terbuka, anjing gila sekaliber Deus Macallian sekalipun tak akan punya celah untuk menyentuhnya.
Walaupun pengaruhnya telah memudar dan kepercayaan sang raja kepadanya kian terkikis, Tyrian tetaplah berdarah biru sebagai pangeran kedua Caliban. Melukai dirinya tanpa landasan hukum yang sah tiada lain adalah tindakan bunuh diri yang gila, dan Deus pasti sangat memahami konsekuensi tersebut.
Karena itulah, Tyrian berteguh hati meyakini bahwa Deus tak akan berani berkutik.
Setidaknya, keyakinan itu bertahan hingga hari kemarin.
BRAAANG!
Dengan tatapan nanar dan hampa, Tyrian menatap lurus ke depan. Pintu ruang kerja paviliun istana tempat peristirahatannya telah hancur berkeping-keping, dan di ambang reruntuhan itu, sesosok pria berdiri tegak.
Menggenggam sebilah pedang kayu di salah satu tangannya, pria itu tiada lain adalah Deus Macallian.
“Pedang Caliban memberi salam kepada penerus Lima Pedang,” ucapnya dingin, dengan sepasang mata yang menyala buas penuh kobaran amarah yang membakar.
“Aku datang ke mari untuk menanyakan satu hal padamu.”
Kedatangannya memang ditujukan bulat-bulat untuk Tyrian.