Became the Patron of Villains

Bab 68

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 36 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 68

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Jangkauan sihir pembentukan es yang luar biasa sempit itu sirna bahkan sebelum genap tiga detik.

Nyatanya, perwujudan aslinya begitu lemah hingga sama sekali tak memiliki kegunaan praktis.

“Kekuatan sihirku…”

Hanya dengan mengerahkan itu saja, Alon merasa inti mana miliknya terkuras habis. Ia mendadak menyadari betapa cerobohnya dirinya saat bertarung melawan kekuatan asing setengah tahun silam.

‘Waktu itu, bisa selamat saja sudah merupakan keajaiban yang patut kusyukuri.’

Dengan benak yang dipenuhi pikiran itu, Alon melayangkan pandang ke arah ras naga yang baru saja mencemoohnya beberapa saat lalu.

Meskipun yang tampak di hadapannya hanyalah sesosok bayangan gelap dengan lubang putih pucat di bagian yang seharusnya menjadi mata dan mulut, Alon dapat membaca ekspresinya dengan teramat jelas.

Ras naga itu, dengan mulut ternganga tak percaya, menatap nanar ke titik di mana sihir tadi sempat memanifestasikan diri sesaat sebelumnya.

[Ba… bagaimana mungkin? Sudah jelas kau tak mengerti sedikit pun perihal Resonansi Pikiran atau hal-hal semacamnya…]

Ras naga itu bergumam gamang, raut wajahnya menyiratkan keterkejutan luar biasa, seolah seluruh pemahamannya tentang tatanan dunia baru saja runtuh berkeping-keping.

“Tepati janjimu.”

Alon mengingatkannya pada hal yang paling krusial.

Raut wajah ras naga itu langsung terdistorsi masam.

Sejenak, ia tampak hendak memekik dan menuduh Alon berdusta, menganggap janji mereka telah batal demi hukum.

Namun, setelah Alon melontarkan teguran bahwa sosok sekelas dirinya setidaknya harus memegang teguh kata-katanya sendiri, sang naga melenguh berat seolah tengah memikul seluruh beban jagat raya di pundaknya.

[Tuan…]

Dengan kertakan gigi yang terdengar gemertak ngilu, ras naga itu akhirnya bersuara jua.

Kendati panggilan tersebut terdengar lebih sarat dengan niat membunuh ketimbang takzim, Alon mengangguk puas seorang diri, merasakan secercah pembalasan yang manis.

[Apakah kau benar-benar tidak paham apa pun tentang Resonansi Pikiran?]

Ras naga itu bertanya sekali lagi.

Alon mengangguk pasti.

“Memang tidak.”

[…Sepertinya kau tidak berdusta.]

“Mengapa hal itu begitu dipermasalahkan?” tanya Alon, benar-benar diliputi kebingungan.

Ras naga itu sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya mulai menjabarkan.

[Sebagaimana yang telah kujelaskan sebelumnya, sihir pada mulanya diciptakan untuk mendekati ‘hukum-hukum dunia.’ Frasa, segel, dan inskripsi, semuanya mengabdi pada tujuan tersebut.]

[Kendati demikian, ada perbedaan yang amat mendasar: sementara frasa dan segel dapat digunakan asalkan maknanya dipahami, inskripsi semata tidaklah cukup.]

Sembari duduk di tepi meja, ras naga itu melanjutkan paparannya.

[Seperti yang kusampaikan tempo hari, inskripsi merupakan anak kunci untuk mengakses hukum-hukum yang telah dipatrikan para penyihir pada dunia ini.]

“Aku ingat kau mengatakan itu… tapi jika apa yang kaukatakan benar, dan seseorang harus memahami Resonansi Pikiran demi melancarkan manifestasi-diri, mengapa kau mengajarkan inskripsi itu padaku? Bila aku benar-benar harus menguasai Resonansi Pikiran, bukankah aku tetap takkan bisa menggunakannya kendati kau telah mengajariku?”

Menanggapi pertanyaan Alon yang sarat rasa ingin tahu, sang naga langsung menukas.

[Perkataanmu ada benarnya, namun keliru pada saat bersamaan. Seperti kataku tadi, inskripsi adalah anak kunci, tetapi mereka juga sarana untuk mengintervensi hukum dunia. Artinya, mereka bisa difungsikan sebagai kunci, namun bisa pula dipakai untuk membelokkan hukum tersebut.]

Alon mengangguk paham.

Ia memang sempat menggunakan sihir pembentukan es dalam rupa yang berbeda-beda sebelum mencoba manifestasi-diri. Kini ia pun mengerti hukum mana yang telah didistorsi oleh inskripsi ‘Keagungan Pegunungan Salju’.

“Jadi, fungsinya ganda.”

[Tepat sekali. Kendati fungsi utamanya adalah sebagai kunci untuk membantu para penyihir menyentuh hukum yang telah mereka torehkan, inskripsi itu sendiri dapat dimanfaatkan layaknya hukum itu sendiri.]

Ras naga itu melanjutkan.

[Namun, seperti yang telah berulang kali kutegaskan, manifestasi-diri menuntut adanya Resonansi Pikiran. Dan Resonansi Pikiran itu hakikatnya adalah ingatan.]

“…Ingatan?”

Alon memiringkan kepalanya sedikit, dilanda heran, sementara sang naga ragu-ragu sejenak sebelum menguraikan lebih dalam.

[Benar. Orang-orang kerap berbicara mengenai pewarisan sejarah atau ilmu pengetahuan, namun pada akhirnya, semua itu bermuara pada ingatan. Ingatan ketika para penyihir purba pertama kali menyentuh hukum dunia dan memahat inskripsi tersebut.]

[Itulah yang kusebut sebagai Resonansi Pikiran, dan hal itu mutlak diperlukan untuk memberdayakan inskripsi sebagai kunci. Itulah alasan mengapa aku berkata semua ini sama sekali tidak masuk akal.]

Ras naga itu mengerutkan keningnya, lalu menambahkan dengan nada suara yang merendah.

[Di dunia saat ini, baik Resonansi Pikiran maupun para penyihir agung yang sanggup meneruskannya kepada generasi penerus, tak ada lagi yang tersisa.]

Keheningan singkat merayap di antara mereka berdua.

Namun tak berselang lama, helaan napas panjang sang naga memecah kesunyian tersebut.

[Itulah sebabnya aku sungguh tak habis pikir. Bagaimana persisnya caramu bisa berhasil melakukan manifestasi-diri?]

Ia menatap Alon dengan gurat kebingungan yang pekat, tetapi tentu saja, Alon tak memiliki jawaban untuk disodorkan.

Bagaimanapun juga, Alon sendiri pun tidak tahu menahu bagaimana ia sanggup mengerahkan manifestasi-diri tersebut.

Bukan, lebih tepatnya, ia tahu langkah-langkahnya. Ia merangkai segel, melafalkan frasa, dan menyuarakan inskripsi.

Hanya dengan itu, Alon sukses mengeksekusi manifestasi-diri.

Akan tetapi, kenyataan itu bertolak belakang dengan apa yang baru saja dipaparkan sang naga.

Penjelasan bahwa manifestasi-diri mewajibkan seseorang mewarisi Resonansi Pikiran jelas berbenturan dengan pengalaman Alon, sebab ia sama sekali tak punya secuil pun ingatan mengenai warisan semacam itu.

Kontradiksinya pun tak berhenti di situ saja. Terdapat jurang pemisah yang teramat lebar antara pengetahuan umum milik ras naga dan apa yang dipahami oleh Alon.

Pertama, hingga detik ini, Alon senantiasa merapalkan sihir menggunakan frasa, inskripsi, dan segel, namun sebagian besar di antaranya merupakan pengetahuan yang ia peroleh dari mencoba merapalkannya sendiri lalu memahaminya lewat pengalaman empiris.

Dengan kata lain, ia menyimpulkan makna tiap frasa murni melalui proses uji coba tanpa pemahaman teoretis sebelumnya.

Padahal ras naga itu menyatakan dengan tegas bahwa frasa dan inskripsi hanya dapat difungsikan apabila pelafalnya memahami maknanya secara mendalam.

Intinya, uraian sang naga seolah menyiratkan bahwa metode otodidak yang ditempuh Alon untuk mempelajari sihir mestinya adalah kemustahilan mutlak.

“Sebelum membahas yang lain, ada satu hal yang ingin kutanyakan.”

[Apa itu?]

Alon lantas mengutarakan keraguannya kepada ras naga tersebut. Setelah menyimak beberapa saat, sosok itu bergumam linglung,

[…Apakah hal semacam itu masuk akal?]

Ia mematung dengan tatapan hampa, benar-benar tak sanggup mencerna.

“Tapi begitulah caraku melakukannya selama ini. Dan sekarang pun tetap sama.”

Jawaban Alon disambut kekehan tak percaya dari sang naga. Tepat ketika ia hendak menyambung kalimatnya—

Gemuruh!

“?”

Alon mengerutkan alisnya heran tatkala menara tersebut mendadak berguncang hebat, seakan-akan gempa bumi dahsyat tengah menerjang.

[…Rupanya waktuku sudah habis.]

“Waktu?”

[Batas waktu di mana aku sanggup memanifestasikan diri di dunia fana ini teramat singkat, dan sepertinya batas itu telah tiba.]

Alon secara naluriah mengernyit mendengar penjelasan tersebut, namun ras naga itu menyunggingkan senyum seakan hendak menenangkannya.

[Jangan terlalu cemas. Kembalilah lima hari lagi, dan kita bisa berbincang kembali. Aku akan menjelaskan semua hal yang membuatmu penasaran saat itu. Dan lagi—]

[-Bila memungkinkan, carilah ‘Tongkat Gereja’ dan dapatkan frasa serta inskripsi dari entitas yang bersemayam di dalamnya. Kau akan sanggup berkomunikasi dengannya cukup dengan mengalirkan sihir ke sana.]

Tongkat Gereja…? Semacam senjata berego?

[Lebih tepatnya senjata yang dirasuki kepribadian, agak sinting memang. Rengkuhlah frasa dan inskripsi darinya.]

“Maksudmu inskripsi-inskripsi itu ibarat jurus rahasia, namun kau begitu yakin ia akan membagikannya semudah itu?”

[Tak perlu risau soal itu. Sosok di dalamnya teramat meratapi nasibnya yang tak sempat mewariskan ilmunya, jadi ia pasti akan dengan senang hati mengajarkannya padamu.]

[Aku menantikannya. Bila apa yang kaukatakan memang sungguh nyata, kelak kau akan sanggup—]

Ras naga itu kembali mengulum seringai licik.

[-Menggunakan seluruh sihir milik segenap penyihir hanya berbekal frasa, inskripsi, dan segel semata. Dan juga—]

Sebelum sempat menuntaskan kalimatnya, sosok naga itu lenyap seketika tanpa jejak, meninggalkan Alon yang tertegun menatap ruang hampa dalam kebisuan.

***

Waktu berlalu sejenak.

Alon, yang telah melangkah keluar dari reruntuhan kuno tersebut, kini tengah berada di dalam kereta kuda, tenggelam dalam lautan perenungan.

Ia belum berhasil menyingkap rahasia yang mula-mula menuntun langkahnya ke tempat itu—misteri yang telah sekian lama mengusik rasa penasarannya. Kendati demikian, fokusnya kini telah beralih sepenuhnya dari teka-teki tersebut.

Rahasia itu sendiri tak menghadirkan risiko besar, mengingat ia masih harus menetap di koloni setidaknya selama dua pekan ke depan demi urusan Koloseum.

Alih-alih memikirkannya, benak Alon justru terus terngiang oleh wejangan yang dibeberkan sang naga.

‘…Takkan bisa menggunakan sihir tanpa memahami frasa, inskripsi, dan manifestasi-diri, ya?’

Pertanyaan itu ia timbang berulang-ulang dalam kepala.

‘Ras naga itu sepertinya tidak berdusta, lantas bagaimana mungkin aku bisa mempergunakannya selama ini?’

Kendati telah merenungkannya berkali-kali, ia sadar betul mustahil menemukan jawaban atas perkara yang hakikatnya tak ia ketahui jalurnya.

‘Rasanya ada sesuatu yang janggal di balik semua ini…’

Dibalut secuil rasa penasaran, perlahan ia mengalihkan alam pikirnya menuju topik yang lain.

‘Tongkat Gereja, ya…’

Beruntung, Alon mengetahui secara pasti di mana letak Tongkat Gereja yang disebutkan sang naga.

‘Harusnya benda itu tersimpan di dalam perbendaharaan kerajaan di koloni.’

Ia telah beberapa kali menyusup ke ruang pusaka keluarga kerajaan semasa menjalankan berbagai misi demi mengambil rupa-rupa artefak, sehingga seluk-beluk lokasinya sudah sangat ia kenali.

Akan tetapi, meski tahu letaknya, Alon sama sekali tak pernah berniat membawa keluar Tongkat Gereja tersebut.

Dalam hal performa, benda itu tergolong artefak yang paling tak berguna di antara timbunan harta dalam perbendaharaan tersebut.

‘…Kemampuannya sama sekali tidak istimewa, terlalu sepele untuk diprioritaskan dibanding barang lain yang mulanya hendak kuambil.’

Meski begitu, ia tak berhasrat mengabaikan begitu saja petunjuk sang naga. Maka setelah menimbang sesaat, ia menetapkan keputusan.

‘Tampaknya tak ada pilihan lain… sebaiknya aku mendaftar sebagai petarung di Koloseum terlebih dahulu.’

Ia membulatkan tekad untuk terjun ke gelanggang Koloseum kali ini demi merengkuh Tongkat Gereja tersebut.

Maka…

“Tuan!”

“Ya?”

“Boleh elus kepalaku?”

“…Kepalamu?”

“Iya!”

Sembari mengusap lembut surai Seolrang yang telah menyandarkan tubuh di sampingnya meminta belaian—

“Hmm—”

—gadis itu tampak begitu menikmati sentuhan tersebut, kendati jemari Alon nyaris tak bergerak sementara kepalanya sendirilah yang terus menggesek manja ke telapak tangannya.

Bersama-sama, mereka berdua akhirnya tiba di gerbang koloni.

Dan…

“…Eh?”

Begitu menjejakkan kaki ke dalam, Alon langsung menyadari adanya hawa kekacauan yang tak biasa.

Bahkan, setelah menyadari betapa lengangnya lalu-lalang warga di sudut-sudut koloni, Alon sempat tertegun heran, kendati hanya sesaat.

Tatkala kereta kuda mereka melaju kian dekat menuju serikat, pandangan Alon terbentur pada lautan massa yang berjejal padat di sepanjang jalan poros utama koloni, memaksanya lekas menghentikan laju kereta.

Mustahil untuk menerobos kerumunan serapat itu.

Terlebih lagi—

“Nona Seolrang, sepertinya kita terpaksa menunggu sampai kerumunan ini bubar.”

Pria setengah binatang yang telah bertolak memantau ke depan lekas melaporkan situasi, membuat Seolrang menoleh memandang Alon.

Usai menimbang sejenak, Alon berujar, “Mari menunggu sambil melihat-lihat apa yang terjadi.”

Ia turun melangkah dari kereta kuda, rasa ingin tahunya terusik oleh keriuhan yang tak lazim tersebut.

Tampaknya segenap penduduk koloni telah tumpah ruah ke jalanan, berbaris rapat memagari kedua sisi jalan poros utama.

Saat Alon menjejakkan kaki keluar dari kereta dan menyibak kerumunan massa, sepasang matanya akhirnya menangkap sesosok kereta kencana yang tengah melaju mendekat dari kejauhan.

“Berhenti di situ.”

Seorang tentara bayaran mendadak memalangkan diri menghadang langkah Alon.

Sosok prajurit bertampang beringas itu mendorong dada Alon dengan gerakan ringan menggunakan tangan yang tengah menggenggam sarung pedang, lalu berujar dingin.

“Tak seorang pun diizinkan mendekati Tuan Milanon.”

Sebuah peringatan yang teramat lugas dan tanpa tedeng aling-aling.

Baru saat itulah Alon menyadari bahwa di balik sesaknya lautan manusia, area khusus di sekitarnya tampak steril dan lengang, dipagari ketat oleh barisan tentara bayaran.

Alon mengalihkan sorot matanya ke arah sosok pria yang berdiri pongah di balik barikade para prajurit sewaan tersebut.

Tampangnya mencerminkan seorang bangsawan koloni, berselubung aneka perhiasan mencolok dengan gelagat keangkuhan yang kentara sekali.

Rupanya sempat mendengar gertakan si tentara bayaran, sang bangsawan melirik Alon sekilas, menyunggingkan seringai mencemooh, lalu membuang pandangannya acuh tak acuh.

Pada detik itu, Alon hanya sanggup terkekeh geli dalam hati menyaksikan polah sang bangsawan yang—sebagaimana kaum priyayi kebanyakan—kerap membusungkan dada dan merasa paling berkuasa hanya atas hal-hal remeh-temeh semata.

Krak!

Dalam sekejap mata, tentara bayaran yang tadi menghadang Alon lenyap bagai disapu angin, sebelum akhirnya menghantam telak dinding toko kelontong di dekat sana hingga remuk redam.

Semuanya berlangsung begitu kilat.

Atensi kerumunan massa seketika tersedot ke arah titik benturan tersebut, dan para tentara bayaran yang membentuk barikade langsung merangsek maju bahkan sebelum sempat mencerna duduk perkaranya.

Pada saat bersamaan—

Zrap!

Blarr! Brakkk!

Para serdadu bayaran yang tengah menghambur ke arah Alon terpental liar melayang di udara, lalu terhempas menghantam fasad bangunan-bangunan di sekelilingnya.

“Se, Seolrang!?”

Sang bangsawan, Milanon, yang baru sesaat lalu menyunggingkan seringai angkuh, tersentak mundur ketakutan mendapati kemunculan tiba-tiba Seolrang.

“Aaaaaaaakh!!!”

Pekikan histeris meledak dari kerongkongannya manakala jemari Seolrang meremas kuat kepalanya.

Lalu—

“Dia telah berani mencemooh Anda, Tuan. Apa yang harus kulakukan padanya?”

Seolrang memalingkan wajah ke arah Alon diiringi senyuman merekah ceria—kontras luar biasa dengan cengkeraman kejamnya yang tengah menjepit Milanon tanpa ampun. Alon sontak tercekat kehilangan kata-kata.

Tanpa memberi celah baginya untuk melerai, Seolrang kian mempererat rengkuhannya pada kepala sang bangsawan seolah sanggup melumatnya menjadi serpihan kapan saja, semata-mata karena pria itu telah berani memandang rendah Alon.

“Haruskah kubunuh saja dia?”

Kendati pemandangan itu menyisakan kepuasan batin tersendiri, Alon tak urung merasa tindakan tersebut kelewat ekstrem.

“Paling tidak, jangan di tengah jalan raya yang ramai begini…”

Alon, yang tengah menimbang cara membereskan kekacauan itu, mengalihkan perhatiannya pada dengung bisik-bisik yang mulai menjalari sekeliling.

Ia lekas menyadari bahwa kereta kencana putih bersih yang sebelumnya melintasi jalanan padat itu kini telah terhenti tepat di hadapannya. Pada saat yang sama, ia mengenali asal-muasal lambang kereta tersebut.

‘Kerajaan Suci, rupanya.’

Melihat jajaran para paladin penjaga, benak Alon membatin demikian. Tepat pada detik itu, pintu kereta yang berhenti tersebut perlahan mengayun terbuka, dan sesosok tubuh mulai melangkah keluar.

Tampak seorang gadis berbalut gaun hitam legam, berhiaskan sulaman benang merah menyala yang terajut apik di berbagai sudut busana kesuciannya.

“Hm?”

Alon hanya sempat memiringkan kepala sejenak dalam kebingungan, merasa paras elok gadis itu tampak teramat familiar di ingatannya.

“Kar… Kardinal!”

Sayup terdengar jeritan serak bangsawan Milanon—yang kepalanya masih tertawan dalam cengkeraman Seolrang—memanggil sang dara. Seketika itu pula, nurani Alon memberi firasat tajam bahwa situasi pelik ini bakal bergulir kian rumit.

Bagi siapa pun yang tak menyaksikan awal pertikaian, pemandangan ini pasti tampak seolah-olah Alon dan Seolrang tengah merundung seorang bangsawan tak berdosa.

Milanon, yang agaknya berniat menangguk untung dari situasi tersebut, segera memasang raut muka memelas yang terlampau dilebih-lebihkan. Alon sempat bimbang apakah ia perlu angkat bicara demi meluruskan kesalahpahaman ini.

Akan tetapi, mematahkan segala praduga, gadis yang baru saja turun dari kereta kencana itu sama sekali tak melangkahkan kaki ke arah sang bangsawan yang kepalanya masih terkunci rapat di tangan Seolrang.

Bahkan, secuil pun ia tak sudi meliriknya, seolah keberadaan pria itu sama sekali tak bernilai di matanya. Sebaliknya, langkah anggunnya terarah lurus tanpa ragu menuju ke tempat Alon berdiri.

“Ih!”

Tatkala Seolrang, seraya mengibaskan ekornya liar, bergeser minggir memberi jalan, sang gadis kian mendekati Alon dan menyambut tangan kiri pemuda itu dengan kedua belah tangannya yang lembut.

Lalu—

“Sudah sekian lama kita tak bersua.”

Pada detik itu, manakala kelopak matanya perlahan terbuka dan sepasang manik mata merah menyala miliknya bersitatap langsung dengan tatapan Alon, sang pemuda akhirnya tersentak menyadari siapa sosok di hadapannya.

Gadis jelita yang berdiri tegak di hadapannya tiada lain adalah—

“Tuan.”

—Ytia Bludia.

Di tengah keheningan jalanan yang seketika dicekam keterpanaan luar biasa, di mana gemerisik bisik-bisik massa telah sirna ditelan rasa takjub, ia mengulum senyum tulus menatap sang pemuda tanpa sepatah kata lagi.

— End of Chapter 68 — — Akhir Chapter 68 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!