Became the Patron of Villains
Bab 82
Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.
Alon, yang melangkah di sepanjang jalan utama, tak lama kemudian mendapati dirinya telah tiba di pesisir timur Syphra. Ia mengedarkan pandangan, menyadari betapa pantai timur ini jauh lebih sunyi daripada desa yang pertama kali ia singgahi. Sejauh mata memandang, hanya terhampar hamparan pasir, deburan ombak lautan, dan tebing-tebing karang di kejauhan—tak ada hal lain.
“Aku benar-benar berhasil sampai…” gumamnya dalam hati.
Mengingat kembali pria yang mendadak berubah sikap lalu dengan ramah menunjukkan jalan kepadanya, raut wajah Alon tampak begitu ganjil saat mulai menyusuri tepian pantai. Tak lama berselang, ia merogoh dan mengeluarkan seuntai kalung berukirkan pola kayu hitam, cinderamata dari ‘entitas itu’ yang ia temui di Koloni.
Sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan berpapasan secara terang-terangan dengan ras lain di pesisir ini, terlebih ras yang bahkan belum pernah ia jumpai di Psychedelia.
Maka, seraya menggenggam kalung tersebut, Alon terus melangkahkan kaki di atas pasir nan lengang menuju tebing karang yang kian mendekat, hingga…
“Hm?”
Ia menangkap sosok seorang wanita yang tengah mengawasinya dari jalan setapak berbatu di balik tebing karang.
Bukan, sosok itu bukanlah wanita biasa.
“Putri duyung.”
Kendati tubuh bagian atasnya tak diragukan lagi menyerupai manusia, bagian bawahnya memiliki siluet ramping bak seekor ikan. Alon melangkah mendekatinya, memastikan wujud sosok tersebut.
“Siapa kau, dan mengapa kalung itu ada padamu?”
Putri duyung berparas jelita itu melontarkan tanya dengan nada suara yang sarat akan kewaspadaan nyata. Alon, yang terpikat oleh kemerduan suaranya sebagaimana keelokan parasnya, menyahut,
“Aku datang kemari berbekal rekomendasi dari Kaum Naga (Dragonkin).”
“Kaum Naga?”
“Kudengar, dengan benda ini, aku akan sanggup menyaksikan kebenaran.”
Saat Alon memperlihatkan kalung itu kepada sang putri duyung, wanita itu menggumamkan kata “Kaum Naga” berulang kali, seolah tengah menimbang-nimbang sesuatu, lalu bertanya,
“…Maksudmu, mereka yang memiliki ekor panjang?”
“Ekor… hmm, kurasa memang cukup panjang.”
“Tepatnya sepanjang apa?”
“Cukup panjang sampai bisa membentuk tanda tanya?”
Alon menukas, meski sedikit heran dengan pertanyaan tersebut. Namun, jawabannya tampaknya sesuai dengan apa yang diharapkan, sebab sang putri duyung—yang semula begitu waspada—berangsur rileks dan berujar,
“Tampaknya kau memang seorang tamu. Kau datang untuk menyaksikannya, bukan?”
“Benar.”
“Kalau begitu, silakan ikuti aku.”
Disertai anggukan dari Alon, sang putri duyung menuruni bebatuan karang lalu menyelam ke dalam laut.
Wuuung—
Sesaat kemudian, ia memunculkan sebuah bola raksasa menyerupai tetesan air tepat di hadapannya. Bola itu berkilauan memancarkan rona kemerahan di bawah naungan mentari yang kian terbenam.
“Masuklah kemari,” titah sang putri duyung.
Alon sempat ragu sejenak sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam bola air itu. Begitu ia menjejakkan kaki di dalamnya, lapisan-lapisan sihir mulai menyelubungi sekeliling bola.
“Baiklah, kita berangkat sekarang,” serunya, seraya menarik bola air itu menyelam ke kedalaman samudra.
Menembus perairan kirmizi yang terwarnai lembayung senja, mereka segera meluncur turun menuju dasar laut yang pekat. Alon, yang tenggelam kian dalam ke samudra nan sunyi, tak merasakan ketakutan berarti, seolah sang putri duyung—yang bahkan belum sempat memperkenalkan diri—sama sekali tak acuh pada keadaan sekitar.
Kendati demikian, Alon mau tak mau merasakan hawa dingin yang merayap ketika sekelilingnya berubah menjadi gelap gulita, tanpa ada satu pun yang kasatmata.
Rasanya seakan-akan ia tengah mengapung di tengah kehampaan tanpa batas.
Di tengah kegelisahan dan rasa tak nyaman yang aneh ini, sekelumit kejanggalan mendadak menggelitik inderanya…
“Hah?”
“…?”
Pada satu titik, seberkas cahaya tunggal membelah kegelapan gulita. Begitu Alon menyadarinya, kilau kehijauan laksana aurora perlahan merebak melintasi laut dalam, meredakan kecemasan di hatinya.
Terpikat oleh pemandangan nan menakjubkan itu, Alon meloloskan decak kagum lirih. Seiring sang putri duyung terus menarik bola air semakin dalam, pendar aurora hijau itu tampak semakin benderang di mata Alon. Selang beberapa saat kemudian…
“Kita sudah sampai.”
Alon mendapati dirinya berada di depan sebuah gua.
“Tempat ini…”
Begitu bola air itu sirna, Alon melangkah masuk ke dalam gua, memandang berkeliling dengan raut penuh ketertarikan. Tampangnya serupa dengan gua-gua pada umumnya, namun fakta bahwa ia dapat bernapas leluasa di tempat ini sungguh memikat benaknya.
“Ikuti aku.”
Kerap kali teralihkan oleh keadaan sekitar, Alon terperanjat mendengar suara sang putri duyung. Ia menoleh dan mendapati tubuh bagian bawah wanita itu telah bermetamorfosis: siluet tubuh ikannya telah berubah wujud menjadi sepasang tungkai kaki manusia. Terlepas dari adanya celah insang di lehernya, ia nyaris tak dapat dibedakan dari seorang manusia biasa. Menyadari apa yang membuat Alon tercengang, sang putri duyung menyunggingkan senyum tipis.
“Hal ini hanya terjadi di dalam suaka ini.”
Seakan memaklumi reaksi Alon, ia memimpin langkahnya kian jauh ke dalam perut gua. Berselang sekitar sepuluh menit kemudian, Alon tiba di sebuah ruangan aula yang sangat lapang.
“…Luar biasa.”
Ia tak kuasa menahan decak kagum. Di luar mezbah yang berdiri di tengah-tengah, aula tersebut tampak lengang, namun langit-langit gua itu menyingkapkan pemandangan ‘langit luas’. Ya, itu adalah langit. Walaupun berada di dasar laut yang dalam, hamparan langit malam bertabur gemintang terbentang megah di langit-langit gua.
Alon, yang sebelumnya bahkan tak sempat berucap sepatah kata pun saat melihat aurora, kini menatap kosong ke arah langit-langit, kali ini melontarkan kekagumannya secara terbuka.
“…Apakah bagimu itu indah?”
Mendadak, suara sang putri duyung bergema.
“Ya, sangat indah.”
Menyaksikan Alon mengangguk, raut wajah wanita itu berubah menjadi getir yang ganjil. Tidak, rasanya lebih dari sekadar itu—sebuah kepiluan yang teramat mendalam. Tepat ketika Alon mulai meraba hakikat dari emosi tersebut…
“Begitu rupanya. Untuk saat ini… ya.”
Ia bergumam pelan, suaranya nyaris tak tertangkap oleh pendengaran Alon, sebelum kemudian melanjutkan kembali perbincangan.
“Inilah langit yang senantiasa kau pandang selama ini.”
“…Bukankah hari masih siang saat kita tadi masuk?”
“Dibutuhkan waktu yang cukup lama bagi kita untuk menyelam kemari. Waktunya sudah tepat bagi bintang-bintang untuk bermunculan. Lagi pula—”
Sang putri duyung mengalihkan pembicaraan.
“Selamat datang di Suaka Pengamatan. Akulah sang ‘Pengamat’. Kau datang kemari demi menyaksikan kebenaran, bukan?”
“Tepat sekali. Dikatakan padaku bahwa aku akan dapat melihat kebenaran di tempat ini.”
“Kau telah mengambil pilihan yang bijak.”
“…Benarkah begitu?”
“Ya. Begitu kau menyaksikan kebenarannya, kau akan memahami segalanya.”
Bersamaan dengan ucapan itu, ia melangkah menuju mezbah, mengambil sebilah cermin, lalu menyerahkannya kepada Alon.
“Ini adalah…?”
“Tataplah ke dalamnya. Kau akan menyaksikan apa yang selama ini kau cari.”
Menerima cermin tersebut, Alon menatap ke permukaannya. Ia melihat raut wajahnya sendiri yang datar terpantul kembali, memicu rasa heran di benaknya.
Kemudian, ia merasakan sensasi yang ganjil. Rasanya seolah-olah seisi jagat sedang tersedot masuk ke dalam cermin itu. Alon menyadari bahwa sudut pandangnya telah bergeser seutuhnya.
[Dewa-dewa sejati telah digulingkan dari takhtanya.]
Sebuah suara bergema menggetarkan sanubarinya.
####
Hidan, seorang agen operatif dari organisasi yang mengabdi pada Rembulan Biru (Blue Moon), telah tiba di Moolman, salah satu wilayah kekuasaan Asteria. Moolman adalah daerah di mana pengaruh dunia hitam begitu mencengkeram, terabaikan dan luput dari perhatian kaum bangsawan.
Hidan datang kemari hanya demi satu tujuan: ia mendapat kabar bahwa para dalang utama, yang tengah merancang makar melawan Rembulan Agung (Great Moon), akan berkumpul di kawasan ini. Menjalankan titah dari Jaweol—Deus Macallion—ia berada di sini untuk mengendus dan mengidentifikasi mereka yang bersekongkol menodai nama Rembulan Agung.
Tiba sedikit lebih awal dari waktu yang ditentukan, Hidan bersiap menyamarkan keberadaannya terlebih dahulu.
Namun, setibanya ia di ambang pintu masuk ruang bawah tanah, hanya bercak-bercak darah merah segar yang menyambut pandangannya.
Melihat jejak darah yang merembet hingga ke luar bangunan, Hidan langsung menyadari bahwa telah terjadi sebuah pembantaian. Saat ia mendorong pintu hingga terbuka, pemandangan yang teramat mengerikan terpampang di hadapannya.
Tetes, tetes.
Pemandangan mengerikan nan mencekam membentang di depan mata Hidan.
Ruangan itu dipenuhi oleh tumpukan mayat—wajah-wajah yang remuk tercabik oleh sesuatu, tubuh-tubuh yang terbelah menjadi dua, dan anggota badan yang terkoyak lepas. Bahkan terdapat jenazah dengan mata yang masih terbelalak lebar menampakkan teror mutlak. Berbagai serpihan jasad berdarah lainnya berserakan mengotori ruangan, menebarkan hawa kengerian yang mencekik.
Kendati dihadapkan pada pemandangan nan biadab itu, pikiran Hidan tetap dingin dan terasah.
“Siapa yang sanggup melakukan ini? Para pengkhianat? Pemuja Cahaya Hitam (Black Light Cultists)? Kaum Akar (The Roots)? Bukan—tak ada satu pun dari mereka yang akan bertindak sejauh ini. Mungkinkah Bayangan (The Shadows)? …Mustahil, Kaum Bayangan takkan pernah meninggalkan jejak mencolok seperti ini.”
Bahkan di tengah situasi yang begitu genting, ia masih berupaya mendeduksi siapa gerangan dalang di balik tragedi ini.
Prang!
Mendengar suara dentuman mendadak dari arah atas, Hidan lekas berkelebat menuju lantai berikutnya.
Setibanya di lantai dua, pemandangan ganjil nan gila terpampang di hadapannya.
Lima orang, yang tak diragukan lagi merupakan para bangsawan Asteria, tampak duduk melingkari sebuah meja bundar besar, leher mereka terpelintir patah hingga dua putaran penuh—meregang nyawa dengan cara yang teramat muskil.
“Hah?”
Berdiri tepat di tengah-tengah meja bundar itu, sesosok pria tampak menatap lurus ke arahnya.
Pria berambut hitam legam dengan sorot mata biru safir itu berdiri tenang di dalam ruangan hening yang bermandikan cahaya rembulan, menatap datar ke arah Hidan yang mendadak muncul.
Pria itu tak menggenggam senjata apa pun yang kasatmata. Tak ada benda menyerupai senjata di pinggangnya, maupun di sudut mana pun pada tubuhnya.
Meski begitu, naluri Hidan berteriak memberi peringatan mutlak: pria inilah yang telah membidani pemandangan mengerikan ini.
Tanpa sadar ia berupaya menekan debar jantungnya yang berpacu liar, seraya memasang rona wajah tegang penuh siaga.
Pria itu tak bergeming sedikit pun. Namun, Hidan dapat merasakan bahwa sosok di hadapannya adalah entitas yang luar biasa mengerikan.
Tanpa bukti maupun alasan yang gamblang, hanya ada sebuah kesadaran naluriah bahwa pria berambut hitam dan bermata biru itulah yang dengan sengaja menancapkan kenyataan tak terbantahkan tersebut ke dalam benaknya.
Namun, Hidan tak bisa hanya tinggal diam terpaku, sehingga tangannya diam-diam bergerak meraih hulu pedang yang tersampir di pinggangnya.
Tepat pada detik itu—
“Ah.”
Pria yang semula berwajah tanpa ekspresi itu tiba-tiba mengulas sebuah senyuman.
Senyuman yang tampak begitu polos nan murni, sebuah senyum yang rasanya mustahil terpancar dari sosok yang baru saja membantai dan menciptakan neraka pembantaian semacam ini.
Begitu senyuman itu terkembang, tekanan hawa membunuh yang mencekik napas mendadak sirna tanpa bekas, membuat Hidan tertegun kebingungan.
Kemudian—
Tap! Tap, tap.
Pria itu melangkah turun dari atas meja bundar dan mulai berjalan santai menghampiri Hidan.
Melihat gerak-gerik itu, Hidan berniat menghunuskan pedangnya secepat kilat, tetapi—
Deg.
Pria itu, yang telah memangkas jarak hanya dalam sekejap mata, menekan hulu pedang Hidan kembali masuk ke dalam sarungnya.
Klek!
Pedang itu meluncur kembali ke sarungnya dengan begitu mulus, seolah-olah Hidan sama sekali tak pernah mengerahkan tenaga untuk menahannya. Sebelum ia sempat mencerna apa yang baru saja terjadi—
“Pekerjaan di sini sudah selesai, jadi kau boleh angkat kaki. Tapi—jika aku boleh menitipkan satu pesan.”
Pria itu melirik sekilas ke arah Hidan, lantas—
Puk, puk.
Ia menepuk-nepuk pundak Hidan dengan santai.
“Lain kali, pastikan kau menjalankan tugas pendukungmu dengan benar.”
Seraya mempertahankan senyum polosnya, ia menambahkan,
“Urusan ini terbilang cukup sensitif.”
Dan bersamaan dengan tuntasnya kalimat tersebut, sosoknya lenyap menguap dari dalam bangunan.
…
Ditinggalkan seorang diri di tempat yang kini lengang, Hidan hanya berdiri terpaku di sana, menatap nanar ke arah daun pintu tempat sang pria tadi melangkah pergi.