Became the Patron of Villains

Bab 97

Released on Oct 23, 2026 • 05:31 • 53 Total Readers

Became the Patron of Villains

Bab 97

Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.

Raja Koloni, Carmaxes III, tampak memasang raut wajah yang amat masygul.

Pangkal dari sakit kepalanya kini berdiri dengan angkuh di hadapannya: Babayaga nomor satu milik Koloni, Seolrang.

“Jadi,”

Carmaxes tanpa sadar mengulur-ulur perkataannya sembari menimbang apa yang hendak ia sampaikan. Seusai jeda keraguan sejenak, ia pun melanjutkan,

“Maksudmu, kau ingin menghadiri konferensi itu… sebagai seorang ajudan?”

“Yap.”

Seolrang mengangguk tanpa secuil pun keraguan. Menyaksikan hal itu, Carmaxes menghela napas panjang dan berat.

Ini adalah Seolrang yang sama—sosok yang tempo hari bersikukuh bahwa apa pun yang terjadi, kakinya tak akan sudi melangkah ke perhelatan macam itu.

Lalu sekarang ia malah ingin ikut sebagai ajudan? Apa gerangan yang telah membalikkan jalan pikirannya?

Tentu saja, mendapati Seolrang mendampinginya sebagai ajudan sama sekali bukanlah masalah. Justru, ini adalah kesempatan emas yang teramat sayang untuk dilewatkan oleh Carmaxes.

Konferensi Kerajaan Sekutu bukan sekadar ajang perundingan biasa—seperti sedia kala, itu adalah panggung perebutan pengaruh terselubung di antara bangsa-bangsa sekutu. Justru karena alasan itulah Carmaxes sejak mula berniat membawanya.

Akan tetapi, terselip satu persoalan pelik.

“Bukankah sebelumnya kau sendiri yang bilang tak sudi pergi?”

Carmaxes telah mendengar langsung dari mulut Seolrang bahwa wanita itu lebih memilih mati daripada harus menjejakkan kaki di konferensi semacam itu.

Lantaran itulah, ia terlanjur menjanjikan posisi ajudan kepada orang lain: Babayaga kedua Koloni, Makria.

“Pikiranku sudah berubah,” sahut Seolrang enteng.

“Apakah kau benar-benar harus pergi?” tanya Carmaxes dengan nada berhati-hati.

“Ya, aku harus ikut.”

“Kau yakin?”

“Pasti.”

Nada suaranya yang tegas nan tak tergoyahkan tak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar. Carmaxes merasa kebuntuan melandanya.

Sejujurnya, ini bukanlah keputusan yang mudah diambil.

Memang benar, membawa Seolrang akan jauh lebih menguntungkan bagi Carmaxes. Namun, mengingkari janji kepada Babayaga kedua yang telah bersedia menjadi ajudannya niscaya akan menyulut prahara tersendiri.

Tentu, jika ia mengabaikan persoalan takhta jabatan “ajudan”, membawa serta kedua Babayaga sekaligus bukanlah hal yang mustahil. Namun, tindakan itu justru akan melahirkan kerumitan baru.

Pada hakikatnya, menghadiri konferensi dengan menyandang status ajudan membawa gengsi dan martabat tersendiri.

Makria, sang Babayaga kedua, kemungkinan besar bersedia menerima peran tersebut demi alasan itu. Andaikan Seolrang mendampingi mereka saat ini, kendati Makria secara resmi diangkat sebagai ajudan, sorotan mata publik tak pelak akan beralih seutuhnya pada sang Babayaga pertama.

Bagaimanapun juga, Seolrang adalah sosok berkekuatan tiada tara—kehebatannya tak tertandingi oleh siapa pun.

Singkatnya, Makria niscaya akan merasa dipandang sebelah mata, dan kekecewaannya pasti meluap-luap.

“Bagaimana kalau kau menghadiri konferensi berikutnya saja?”

Carmaxes mencoba memberi usul, meratapi kelalaiannya yang tak menuntaskan perkara ini lebih awal.

“Oh.”

Tepat pada detik kalimat tanya itu meluncur dari bibirnya—

“Aku ‘bilang’, aku mau pergi.”

Kibasan ekornya yang tampak jenaka beberapa saat lalu mendadak lenyap, berganti dengan hawa dingin membekukan yang sanggup meremangkan bulu kuduk siapa pun yang memandangnya.

“…Terserah kehendakmu,” balas Carmaxes pasrah.

Ia tak punya pilihan lain selain mengalah.

“Hmph~♬”

Dengan sunggingan senyum puas seolah baru saja menggenggam seisi dunia, Seolrang bersenandung kecil seraya melenggang keluar dari istana kerajaan.

Menatap bayang-bayang punggung wanita itu yang kian menjauh, Carmaxes memijat pelipis matanya yang kuyu.

‘Hari ini agaknya aku butuh ramuan herba penenang,’ gumamnya masygul dalam benak.

***

Sementara itu…

“Jadi, maksudmu kau ingin menghadiri konferensi tersebut?”

“Benar, Yang Mulia.”

“Tetapi Pedang Ketiga sudah ditugaskan untuk berangkat ke sana—”

“Hamba ingin pergi, Yang Mulia.”

“Hmm… perkara ini padahal sudah diputuskan.”

“Hamba tetap ingin pergi.”

Pemandangan serupa rupanya tengah berlangsung di Caliban.

“Hmm…?”

Raja Palmarian IV dari Caliban tampak tertegun heran selagi ia menoleh ke arah Deus Macallian dan bertanya,

“Bukankah sebelumnya kau menolak dengan dalih tidak punya waktu luang?”

Mengulang keheranan yang sama persis dengan sang raja dari padang pasir, Palmarian IV dibuat terperangah.

“Hamba sudah berhasil meluangkan waktu,” sahut Deus Macallian santai, seolah-olah ia sekadar berganti selera pikiran.

Mendapati perubahan sikap Deus yang begitu enteng, Palmarian IV terbungkam sejenak, bingung harus merespons bagaimana.

Bukannya ia enggan memboyong Deus bersamanya. Sang raja paham betul bahwa Konferensi Kerajaan Sekutu, yang berbalut nama pertemuan diplomatik, sesungguhnya adalah arena adu wibawa yang sengit di balik layar.

Hanya saja, Deus telah menolak mandat sebagai ajudan sebelumnya, sehingga Palmarian IV memutuskan menunjuk Pedang Ketiga untuk mengisi posisi tersebut.

Bagi Palmarian IV, permintaan Deus yang tiba-tiba ini terasa memberatkan.

Sekalipun berstatus sebagai raja, ia tak bisa semena-mena membatalkan titah semau jidat. Justru, ia menginsafi lebih dari siapa pun bahwa kian tinggi kedudukan seseorang, kian teguh ia mesti memegang sumpah janjinya.

Bagaimanapun, seorang raja wajib memupuk kepercayaan di mata para kawulanya.

Usai menimbang-nimbang sekian lama, Palmarian IV akhirnya angkat bicara.

“Amat disayangkan, aku tak bisa mengabulkan permohonanmu.”

“Mengapa tidak?”

“Sebab aku terlanjur mengikat janji.”

“Dengan Pedang Ketiga, hamba duga.”

“Benar.”

Seraya mengangguk sembari melanjutkan percakapan dengan Deus, Palmarian IV perlahan mulai menangkap kilasan motif di balik ketertarikan mendadak Deus terhadap konferensi tersebut.

“Ini semua lantaran Count—bukan, sekarang Marquis Palatio, bukan?”

Warta bahwa Marquis Palatio dari Kerajaan Asteria akan turut hadir sebagai ajudan pastilah menjadi lecutan yang membuat Deus terbirit-birit datang kemari.

Pemandangan ini sungguh menggelitik benaknya.

‘Sampai begitu mendalamnya ia mengagumi seseorang…’

Palmarian IV paham teramat lekat betapa Deus Macallian mendewakan sosok Marquis Palatio.

Bagaimana tidak?

Dalam pertemuan rutin Lima Pedang Besar yang digelar beberapa bulan sekali, begitu kata “penyihir” terucap, Deus niscaya akan mengungkit—tidak, melantunkan puja-puji setinggi langit bagi Marquis Palatio.

Bahkan suatu ketika, Pedang Keempat yang baru saja diangkat merasa teramat muak dengan dongeng klise Deus mengenai sang Marquis hingga melontarkan cibiran meremehkan. Perkara itu berujung pada duel berdarah di mana Pedang Keempat dihajar hingga sekarat di ambang maut.

Alhasil, siapa pun yang mengenal Deus Macallian paham betul akan penghormatan fanatiknya pada Marquis Palatio. Tersebar pula desas-desus luas bahwa pantang hukumnya mengucapkan kata “penyihir” di hadapan Deus.

Kendati Raja Palmarian sempat waswas membayangkan bagaimana reaksi Deus jika ia terus menolak, ia justru dibuat terperanjat saat Deus sekadar mengangguk dan melangkah mundur.

“Hamba mengerti.”

Palmarian tak mampu menyembunyikan rona keterkejutannya.

Ia mengira Deus bakal menempuh cara… entah apa—atau mungkin muslihat apa pun—demi merebut posisi ajudan itu.

Namun, Deus malah membungkuk hormat dan berujar,

“Berhubung ketetapan telah diambil, lancang rasanya bila hamba terus berkeras kepala.”

“Terima kasih atas pengertianmu.”

“Sama-sekali bukan masalah, Yang Mulia.”

Deus memohon diri dengan takzim dan beranjak dari ruangan, meninggalkan Palmarian IV yang termangu tak habis pikir.

Akan tetapi, tepat berselang satu hari kemudian, Palmarian menerima permohonan audiensi mendesak dari Pedang Ketiga, sang pendekar yang dijadwalkan hadir ke konferensi sebagai ajudannya.

***

“Hamba menghaturkan salam kepada penguasa Caliban sekaligus junjungan dari Lima Pedang Besar.”

“Ya, ada hajat apa kau menghadap kemari?”

“Ampuni kelancangan hamba, Yang Mulia, namun perkenankan hamba mengundurkan diri dari amanah sebagai ajudan.”

“…Mendadak begini?”

“Benar.”

“Apa alasannya?”

“Pemberitahuan ini… hamba rasa bilah pedang hamba masih terlampau tumpul untuk mengabdi secara layak di sisi Yang Mulia.”

Mendengar pengakuan itu, sekelebat pencerahan menghantam benak Palmarian IV, membangkitkan kembali ingatan peristiwa kemarin petang.

-Aku tak bisa mengabulkan permohonanmu.

-Mengapa tidak?

-Sebab aku terlanjur mengikat janji.

-Dengan Pedang Ketiga, hamba duga.

-Benar.

Tak butuh waktu lama baginya untuk menyatukan kepingan demi kepingan teka-teki yang sesungguhnya terjadi.

“Kukabulkan,” pungkas Palmarian akhirnya.

“Terima kasih banyak, Yang Mulia.”

Maka pada hari itu, ajudan utusan Caliban untuk konferensi pun resmi berganti orang.

***

Tiga pekan kemudian.

Usai mereguk masa rehat yang nyaris tak genap dua minggu lamanya, Alon mendapati dirinya telah kembali ke Teria, bertolak menuju Tern mendampingi Cretinia Siyan demi perhelatan konferensi tersebut.

Selama masa rehat yang singkat itu, Alon akhirnya mafhum mengapa Cretinia Siyan memilih dirinya sebagai ajudan.

“Adu pengaruh, toh.”

Mengingat kembali apa yang telah dibeberkan oleh Evan, Alon terus mengunyah-ngunyah situasi pelik ini di dalam kepalanya.

“Tentu saja, di mana pun para pembesar berkumpul, unjuk kekuatan remeh-temeh semacam itu nyaris mustahil dihindari. Kendati begitu… mengapa harus aku yang ditunjuk? Atau… mungkinkah aku ‘memang’ pilihan yang paling tepat?”

Menilai secara objektif, rekam jejak Alon memang terbilang mentereng, jadi wajar saja bila pilihan jatuh ke tangannya.

Tentu, semua itu hanyalah lapisan kulit luar. Kenyataannya, ia hanyalah penyihir setengah matang yang inti mananya teramat kerdil hingga bakal langsung tumbang tak berdaya usai merapal beberapa patah mantra saja.

‘Yah, pada akhirnya ini simbiosis yang sama-sama menguntungkan.’

Cretinia Siyan dapat mendompleng reputasi Alon, dan Alon bisa merengkuh artefak pusaka yang hanya bisa didapatkannya dengan menjejakkan kaki di Tern.

Kira-kira sepekan berselang, sampailah mereka di tanah tujuan.

‘Ooh…’

Nun jauh di hadapan, menjulang sebuah kastel megah yang dibangun khusus semata-mata sebagai gelanggang pertemuan keluarga kerajaan dari segenap Kerajaan Sekutu. Alon berdecak kagum dalam hening menyaksikan pemandangan tersebut.

Berdiri angkuh di tengah hamparan dataran luas nan terbentang, benteng terluarnya memancarkan pesona tersendiri, dan perawakannya sungguh tak terbantahkan keagungannya.

Kendati sosoknya lebih menyerupai benteng besi dan darah ketimbang sebuah balairung pertemuan, tempat itu tetap saja menawan hati.

Tak lama kemudian, Alon pun menjejakkan langkah di dalam kastel.

“Pertemuan baru dimulai petang nanti, luangkanlah waktumu sejenak untuk bersantai di balairung perjamuan,” titah Siyan.

“Dimengerti,” sahut Alon seraya mengangguk patuh lalu melangkah menuju balairung.

***

‘Heran, tempat ini sepi sekali.’

Setibanya di balairung perjamuan, Alon mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sunyi, sempat terheran-heran melihat minimnya kesibukan di sana.

Sambil mengedikkan bahu, ia mulai mencicipi aneka hidangan penutup yang tersaji manis di hadapannya.

Idealnya, ia ingin lekas bergerak dan mengamankan barang incaran yang ia dambakan. Sayangnya, menimbang sifat alaminya, artefak tersebut hanya bisa diperoleh tatkala malam telah tiba.

‘Lezat sekali.’

Tatkala ia tengah mencecap manis legitnya kue tart telur, memanjakan lidahnya dengan rasa yang kaya, sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.

“Permisi, apakah Anda Tuan Marquis Palatio?”

“?”

Menoleh ke arah sumber suara, Alon melihat seorang pria tengah berdiri tak jauh darinya.

Pria itu memiliki surai merah menyala yang mencolok, mengenakan anting berbentuk salib di salah satu telinganya, serta sebilah pedang tergantung di pinggang—sosok sempurna dari gambaran seorang kesatria rupawan.

“Benar, saya sendiri. Anda siapa?”

“Oh, ternyata sungguh Anda! Suatu kehormatan besar bisa berjumpa dengan Anda!”

Pria itu tersenyum lebar seraya memperkenalkan diri.

“Saya Filian, putra sulung dari Wangsa Adipati Merkilian di Kerajaan Ashtalon.”

‘Filian? Sang Pendekar Pedang Suci dari Ashtalon?’

“Oh? Anda mengenal saya? Suatu kehormatan tersendiri bisa dikenali oleh sosok tersohor seperti Anda. Tampaknya nama saya sudah mulai sedikit masyhur, ya!” seru Filian diiringi tawa riang.

Menyaksikan pria yang begitu bersemangat itu, Alon membatin dalam hati, ‘Yah, sebenarnya bukan lantaran kau terkenal; aku memang sudah tahu siapa dirimu sejak dulu.’

Alon mengenalnya dengan amat baik—Filian Merkilian, Master Pedang termuda di Kerajaan Ashtalon sekaligus karakter kawan yang kelak akan bergabung menjadi sekutu pemain di dunia *Psychedelia.*

“Nama Anda tersohor ke mana-mana. Bagaimanapun juga, Anda adalah Pendekar Pedang Suci termuda di kerajaan Anda.”

“Terima kasih banyak atas pujiannya. Tapi—”

Sebagaimana yang terlihat, tabiat Filian memang ceria dan polos tanpa tedeng aling-aling. Selaras dengan perannya sebagai sekutu dalam gim, ia tak menyimpan niat busuk tersembunyi dan sungguh menyenangkan diajak bercengkerama.

Hanya saja, terdapat satu cacat cela.

“Tuan Marquis tampak… lebih lemah dari yang saya bayangkan.”

Rancangan karakter pria ini jelas-jelas mengindikasikan bahwa segenap bakat dan fokus hidupnya terkuras habis demi ilmu pedang. Buntutnya, kecakapan sosial dan tata krama pergaulannya nyaris tumpul tak tertolong.

“Aneh sekali. Seharusnya Anda jauh lebih kuat dari ini,” celetuk Filian tanpa basa-basi, mencerminkan isi kepalanya yang terpampang gamblang di raut wajahnya.

Lebih parahnya lagi, ia juga mengidap naluri persaingan yang kelewat membara.

‘Hmph.’

Kendati demikian, Alon menginsafi sepenuhnya bahwa Filian tak bermaksud jahat.

Filian Merkilian bukanlah tipe orang picik yang gemar mencemooh atau mempermalukan orang lain.

‘Entah karena jiwanya memang suci dari kedengkian, atau sekadar otaknya yang tak cukup cerdas untuk memikirkan niat busuk, siapa yang tahu.’

Terlepas dari itu, ketulusan dalam nada bicaranya menegaskan tiadanya permusuhan. Alon sempat menimbang-nimbang bagaimana cara membalas kelancangan polos tersebut, tatkala—

“Apa katamu barusan?”

“Hah?”

Sebuah suara dingin dari arah belakang sontak mengejutkan mereka berdua, membuat Alon secara naluriah memutar tubuhnya.

“?”

Pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat netranya membelalak kaget.

‘Seolrang… dan Deus?’

Di sana mereka berdiri tegap, Seolrang dan Deus, keduanya tampak diselimuti amarah yang menyala-nyala. Guratan wajah mereka tak menyisakan keraguan akan murka yang berkecamuk, dan sepasang mata mereka tengah menghunus tatapan maut lurus ke arah Filian.

— End of Chapter 97 — — Akhir Chapter 97 —

Reader Comments & Discussion Diskusi & Komentar Pembaca

0 comments on this chapter

Want to join the discussion?

Sign In to Comment
No comments on this chapter yet. Be the first to share your thoughts!