Copy Skills with Affinity!
Bab 47: Requiem
Bab ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
Naskah di bawah ini ditampilkan sementara dari versi English asli.
"Serangannya berhenti… hah?"
"…Tidak mungkin."
Noel dan Katya, yang sedari tadi menyaksikan pemandangan itu dalam keheningan, sama-sama memekik takjub pada saat yang bersamaan.
Beberapa saat lalu, arwah itu mengamuk begitu dahsyat, jadi wajar saja mereka terperangah.
Dan tatapan sang arwah tetap terpaku lurus pada bendera yang membalut tubuh Aiden.
Bendera bergambar singa. Bendera Kekaisaran.
[-]
Di balik pelindung mata zirah yang berpendar merah darah, terdengar hembusan napas yang tersengal-sengal.
Terjangan liarnya ke arah Noel bak monster tanpa akal, siluet sosoknya yang membabat habis setiap rintangan bagaikan tank berbentuk manusia—semuanya lenyap tak berbekas.
Yang tersisa di matanya tak salah lagi adalah—
‘Batas terakhir.’
Bahkan dalam kondisi seperti ini.
Bahkan dalam keadaan yang begitu jauh dari kewarasan, saat akal sehatnya telah pupus dan kemampuan bicaranya telah hilang, dia pantang melewati garis batas itu.
Warden of the Realm. Ksatria pelindung negeri.
Bahkan dalam kematian, ksatria yang hidup menyandang gelar itu seolah masih mengingat harga diri yang dipupuknya semasa hidup.
Sang Warden of the Realm tak akan pernah mencelakai lambang Kekaisaran.
Ia tak sudi menyakiti siapa pun yang mengusungnya.
‘—Persis seperti dugaanku.’
Mari tetapkan satu premis sederhana.
Seekor arwah hanya bisa mewujud di dunia fana jika menyimpan kerinduan dan tekad membara yang belum terpenuhi semasa hidupnya. Semakin kuat tekad itu, semakin dahsyat pula manifestasinya.
Tak peduli apa yang dikatakan skenario mengenai campur tangan iblis maupun kaum demon, itulah hukum fundamentalnya.
—Dengan kata lain.
Sekalipun seseorang memiliki kuasa untuk membangkitkan arwah menggunakan teknik terlarang yang mendekati pembangkitan mayat hidup, mereka mustahil bisa memelintir 'kerinduan' hakiki tersebut.
Artinya.
Sekalipun ada yang menanamkan sugesti bahwa melukai Noel sama artinya dengan melindungi Kekaisaran—
Mereka tetap tak sanggup menggoyahkan jati diri hakikinya: ‘Melindungi Kekaisaran.’
"……."
Aiden menatap dalam diam ke arah sepasang mata itu, yang menyala bak lentera merah di kegelapan.
Sebanyak apa pun dia mencoba mengingat kembali catatan sejarah tentang Warden of the Realm, tak pernah ada fenomena seperti ini yang terdokumentasikan.
Jelas sekali, ini adalah penyimpangan tragis dari sosoknya semasa hidup.
Ini hanya bisa digambarkan sebagai manifestasi kegilaan. Keadaan di mana kewarasan tak lagi sanggup dipertahankan.
Menanamkan sugesti untuk mencelakai seseorang seperti Noel—sosok yang begitu berharga—ke dalam diri seorang ksatria yang begitu luhur dan teguh tentu bukan perkara mudah.
Pasti dibutuhkan kutukan dan korupsi jiwa bertahun-tahun, hingga meremukkan seluruh jiwanya justru menjadi jalan yang lebih mudah.
Namun kendati demikian.
Sang Warden of the Realm.
Sir Teresa Adelaide.
Bahkan dengan akal budi yang telah luluh lantak, ia tak sekalipun bertindak mencoreng nama kehormatannya.
"Maafkan aku."
Aiden kembali mengucap permohonan maafnya dengan tenang.
Bagaimana mungkin seseorang tak melayangkan rasa kagum padanya?
Hingga titik penghabisan.
Bahkan melampaui kematian, dengan benak yang dikaburkan, bahkan dalam raga di mana jiwanya telah dikotori dan ternoda—
Ksatria ini tak pernah kehilangan kehormatannya. Dia bertarung mengerahkan segalanya demi melindungi Kekaisaran.
Sebagai Warden of the Realm—gelar yang bermakna ksatria perisai bangsa—ia bertindak tanpa secuil pun rasa malu.
Dan apa yang tengah dimanfaatkan Aiden sekarang justru adalah kehormatan luhurnya yang menyilaukan itu.
Aiden punya segala alasan untuk memohon maaf.
Kepada ksatria ini, yang tak sanggup mengayunkan pedang kepadanya dan bersusah payah menahan seluruh tubuhnya yang sejatinya siap melesat menerjang sekuat tenaga.
Namun, kendati demikian—
‘…Aku tak bisa membiarkan sosok seperti dirinya berakhir membantai keluarganya sendiri dengan tangannya sendiri.’
Justru karena itulah, dia harus menumbangkannya di sini, detik ini juga.
Aiden mengangkat pedangnya.
Kekuatan supernatural mulai beredar deras merambati sekujur tubuhnya.
-……
Hal pertama yang ia siapkan adalah First Vow. Kemudian, lebur ke dalamnya, Pure White Qi.
-……!!
Kedua daya supernatural itu bertaut mesra dan terlahir kembali sebagai Guardian’s Flame, melahirkan daya tempur yang jauh lebih mengerikan dibanding jika berdiri sendiri.
Kombinasi itu saja telah menciptakan daya rusak hampir dua kali lipat dari kemampuan aslinya, namun tak berhenti di sana—
—Holy Flame Operation: Detonation.
Energi yang melingkupi tubuhnya seketika meledak bergolak, kekuatannya melonjak lebih dari dua kali lipat. Lalu—
—Spiral, Hollow Point.
Daya yang telah dipadatkan itu dibentuk mengikuti teknik pengoperasian yang ditirunya dari sang Pangeran.
-…………!!!!!!!!!!!!!!!!
Kekuatan yang mengembang dahsyat dan saling bertabrakan itu mulai berputar liar, mencabik dirinya sendiri menjadi serpihan-serpihan yang kian padat.
Hanya dengan memandangnya saja, naluri siapa pun akan berteriak ngeri bahwa jurus itu kian detik kian mematikan.
Aiden melilitkan daya supernatural pekat itu ke bilah pedangnya.
Dan kini, hanya tersisa satu langkah terakhir.
‘Dua bagian pedang.’
Gagang dan bilah.
Strukturnya memang bukan mekanisme rumit layaknya pistol revolver, sehingga tak bisa menampung banyak energi sekaligus, tapi setidaknya dua lapis kekuatan supernatural sanggup disematkan.
Itu berarti, masih ada satu penguatan pamungkas yang tersisa.
‘…Kalau dipikir-pikir.’
Kala itu, Meyer pernah melontarkan sebuah pertanyaan padanya.
Tak peduli sehebat dan sesempurna apa pun sebuah teknik diciptakan, semua itu tak ada artinya jika kau gagal mendaratkannya ke tubuh lawan.
Dia bertanya apakah Aiden punya kemampuan untuk mendaratkan jurus sebrutal itu.
Kala itu Aiden hanya menjawab santai. Bahwa dia adalah tipe petarung yang bersinar dalam pertempuran nyata, jadi dia sangat percaya diri. Kendati sang senior saat itu bahkan pura-pura tidak mendengar ocehannya.
Agak disayangkan memang, karena sang senior tak bisa melihatnya langsung saat ini.
Sebab inilah—inilah alasan mengapa ia menjawab dengan penuh percaya diri kala itu.
-Pesan Sistem
▶ ‘Skill: The Savior’s Vow’ bereaksi.
▶ ‘Public Enemy of the World’ terdeteksi.
▶ Selaras dengan ‘Geas: Protect the World,’ kekuatan supernatural ditingkatkan!
Melihat notifikasi itu melayang, Aiden terkekeh lirih.
‘…Persis seperti dugaan.’
Selama skenario utama berjalan, ia sudah menduga bahwa sumpah geas ini akan terpicu sempurna.
Karena perjalanan yang ia tempuh saat ini, pada hakikatnya, adalah jalan untuk menyelamatkan dunia.
Dan bila bicara soal "pertempuran nyata" macam ini—
Dia memiliki bakat alami untuk mengambil teknik yang ditempa Meyer baginya, lalu melipatgandakannya hingga puluhan kali lipat dari daya aslinya.
Puluhan core mendadak meletup keluar dari sekujur tubuhnya, berputar mengorbit sosoknya, membuat Katya dan Noel ternganga lebar menyaksikannya.
"…Apa-apaan itu—!"
Puluhan core—pencapaian semacam itu adalah ranah mustahil yang bahkan hanya segelintir master legendaris di Dataran Luas yang sanggup menggapainya. Wajar bila siapa pun akan syok melihat seseorang menariknya keluar dengan begitu enteng di depan mata.
Dan kekuatan seni mana itu pun lekas dialirkan menyatu ke hulu pedang.
-Pesan Sistem
▶ ‘Imbuing Supernatural Power’ berhasil. Kekuatan senjata meningkat tajam!
Dengan pesan sistem yang mengambang di hadapannya—
Aiden mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi.
[-!]
Pada detik itu, tatkala formasinya telah rampung sempurna, sang Warden of the Realm, yang sedari tadi terhipnotis oleh kibaran bendera, akhirnya tersentak dan mengangkat pedangnya untuk menangkis.
Namun segalanya sudah terlambat.
Satu-satunya syarat dari teknik ini hanyalah waktu aktivasinya yang memakan durasi. Kelemahan terbesarnya adalah musuh mana pun mustahil berdiam diri membiarkannya merapal jurus.
Dan sedari awal pula—
Menghadapi teknik ini dengan "bertahan" adalah sebuah kesalahan fatal.
Aiden menarik napas dalam-dalam dan mengangkat bilah senjatanya.
Menggumamkan bait aktivasi yang diajarkan Meyer padanya.
—Tear it apart.
—Blade of Dawn.
Dan detik berikutnya.
Cahaya menyilaukan meledak.
Ujung pedang itu membara berkobar-kobar.
▣
Ada orang-orang yang digelari sebagai Para Saint.
Sebuah julukan yang disematkan bagi mereka yang telah menjejakkan kaki di puncak tertinggi bidang keahlian masing-masing. Nama agung yang diserukan dengan takzim oleh seantero benua.
Sword Saint yang menundukkan benua hanya bermodalkan sebilah pedang berkarat, Divine Spear yang merobohkan raksasa purba hanya dengan raga fana, Imperial Marksman yang memukul mundur malapetaka antardimensi yang jatuh menghunjam dari stratosfer—
Dan sosok yang masyhur sebagai Knight of Dawn juga merupakan ksatria perkasa yang berdiri sejajar di jajaran para Saint, membawa serta segudang riwayat kepahlawanan yang sepadan dengan kemasyhuran namanya.
Ada satu kesaksian serupa yang selalu dituturkan oleh siapa pun yang pernah menyaksikan laganya.
Konon, jika kau melihatnya bertarung di tengah gulita pekat tanpa secercah pun sumber cahaya di tengah malam buta—
Pemandangan itu terasa seolah ia tengah "membelah malam dari siang."
Bukankah julukan "Knight of Dawn" itu sendiri lahir dari kilatan cahaya membutakan yang selalu memancar dari senjatanya tiap kali ia melepaskan sebuah teknik?
Dengan kata lain, fenomena itulah yang menjadi simbol kebesarannya.
Jujur saja, tadinya kupikir itu cuma sekadar legenda hiperbolis yang dibesar-besarkan dalam lembaran sejarah.
Sampai akhirnya aku menyaksikannya sendiri dengan mata kepalaku.
“—!”
Noel mengertakkan gigi, mengangkat lengannya demi melindungi matanya.
Jika tidak, kekuatan supernatural yang meledak dari pedang Aiden akan terlalu menyilaukan bahkan bagi pandangan matanya yang terlatih.
Tak ada kata lain yang mampu melukiskannya.
‘Fajar menyingsing…!’
Kilau gemilang ini begitu tak masuk akal sampai-sampai membuat orang bertanya-tanya apakah catatan sejarah sebenarnya justru terlalu merendah dalam menggambarkannya.
Bahkan bagi orang sekaliber Noel, yang berdiri di puncak tertinggi ranah manusia super, ia tetap kepayahan menjaga kelopak matanya tetap terbuka.
‘Dari belahan dunia mana dia bisa mendapatkan ilmu mengerikan macam ini…!’
Tatkala Noel masih limbung oleh rasa ketidakadilan yang tak terjelaskan—bagaimana mungkin Aiden sanggup mengeluarkan jurus gila semacam ini dalam sekejap mata—pemuda itu mengibaskan pedangnya.
Berkat karakteristik Holy Flame yang melipatgandakan daya melalui kerapatan murni qi, kobaran Guardian’s Flame yang sejatinya sudah begitu destruktif, terbelah menjadi puluhan fraksi begitu lepas dari mata pedang.
Masing-masing dan setiap serpihannya menjelma menjadi pusaran spiral yang berputar ganas di udara. Tebasan yang disuntik daya tembus mutlak, dirancang khusus untuk meremukkan pertahanan apa pun.
Hanya dengan memandangnya saja sudah cukup untuk menyadari betapa monsternya kekuatan itu. Bahkan petarung sekaliber Noel, seorang superhuman tingkat atas, bakal kesulitan pulih jika dihantam telak oleh salah satu spiral tersebut.
“—!”
Akan tetapi, respons sang Warden of the Realm pun bukan main-main.
Meski sudah terlambat untuk bereaksi sempurna, ia memanipulasi qi miliknya dalam sekejap mata, membentuknya menjadi bilah perisai tajam.
Tak ada gunanya memasang pertahanan konvensional menghadapi spiral-spiral pemusnah itu, sehingga ia berniat memotong dan mencegat lintasannya.
Dan lintasan yang ia ciptakan begitu presisi. Sabetannya membabat lurus tebasan yang datang, membatalkan dan menetralkan sebagian besarnya.
Bahkan andai tak mampu menangkis secara utuh, itu adalah manuver bersih yang setidaknya sanggup menepis luka fatal.
Namun.
Mulut Noel menganga lebar menyaksikan apa yang terjadi setelahnya.
Pusaran spiral yang hancur menjadi serpihan kecil itu ternyata tidak berhenti. Mereka terus membelah diri, kian lama kian berakselerasi kencang.
Dari puluhan, menjadi ratusan.
Dari ratusan, melesat menjadi ribuan—
“Apa-apaan itu—?!”
Begitu terpana, Noel sampai bergumam tanpa sadar.
Tebasan itu terus membelah tanpa henti. Pusaran-pusaran kecil memenuhi atmosfer, menyelimuti segala penjuru begitu rapat sampai-sampai Noel pun tak mampu melacak semuanya.
Rasanya seakan-akan jagat raya itu sendiri tengah ditelan oleh kilatan cahaya yang membutakan.
Dan tebasan-tebasan yang terus menggandakan diri tanpa akhir itu mulai menerobos celah-celah sempit di antara tebasan balasan yang dilancarkan sang Warden of the Realm.
-!!
-!!!!!!
Akhirnya, tatkala menyaksikan spiral-spiral tanpa ampun itu menembus menembus baju zirah baja tersebut, Noel tercekat kehabisan kata-kata.
Sebab ia paham betul seberapa mengerikan daya hancur dari serangan Aiden.
‘Ini sih…’
Sebuah serangan yang diperkuat dengan kerapatan qi murni lewat Holy Flame, membentang begitu luas hingga mustahil dihindari, menyelinap jitu menembus celah-celah vital dan meremukkan teknik pertahanan sekuat apa pun.
Dalam pertarungan nyata, jurus ini bukannya mustahil ditangkal.
Seseorang bisa saja melarikan diri dari radius serang sebelum jurus itu diluncurkan, atau menyergap dan menghentikan si perapal sebelum senjatanya berayun—
Selalu ada cara untuk mengatasinya tanpa perlu beradu hantaman langsung, asalkan orang itu punya kecepatan berpikir yang kilat.
—Akan tetapi.
Jika kau berhasil melepaskannya.
Jika kau sukses mendaratkannya tepat sasaran.
Dan jika lawan yang kau hadapi adalah sesosok arwah—
‘Kematian mutlak.’
…Tak ada kata lain yang sanggup menggambarkannya.
Bahkan andai sosok ini bukanlah Warden of the Realm melainkan arwah entitas yang jauh lebih mengerikan sekalipun—mustahil ia sanggup bertahan menahan siksaan ini!
-!!!!
Blade of Dawn yang telah menghunjam menembus sela-sela zirahnya, membakar habis seluruh raga Warden of the Realm dalam kobaran api.
Holy Flame, yang pada hakikatnya memang memiliki keunggulan mutlak melawan entitas arwah, berkobar kian buas begitu bersentuhan langsung dengan raga spiritual.
Pergerakan sang Warden, yang sesaat lalu mengamuk bagai badai, mulai melambat lunglai. Zirah bajanya perlahan runtuh terkikis lebur.
"……."
Aiden menurunkan pedangnya dalam diam sembari terus mengamati.
Itu sudah merupakan tebasan yang mematikan.
Bahkan seorang Warden of the Realm, yang telah tumbuh begitu perkasa hingga sanggup memojokkan Noel sekalipun, mustahil bisa terus bertarung setelah menerima hantaman sebrutal itu tanpa ampun.
Sejujurnya, kondisi tubuhnya—yang tercabik-cabik dan dijilati api—begitu menyayat hati untuk dipandang. Nyaris aneh rasanya menyadari ia tidak langsung binasa di tempat.
Namun kendati demikian.
[…………-!]
Meski begitu.
Seorang ksatria pantang mundur.
Dengan jeritan tertahan yang lirih, bersimbah darah, ia masih mencoba bangkit, bara tekad bertarungnya sama sekali belum padam.
"……."
Aiden menatapnya lamat-lamat tanpa bersuara.
Keras kepala—orang bisa saja mencapnya demikian. Orang bahkan bisa menganggapnya bodoh karena terus menggenggam sesuatu yang sejatinya telah usai.
Namun menimbang alasan utama mengapa sosok ini mewujud di dunia fana sedari awal, kegigihan itu bukanlah sesuatu yang pantas dipandang sebelah mata.
Aiden tak tahu bagaimana pikiran sang Warden of the Realm bisa terkorupsi sedemikian rupa. Ia tak tahu siasat keji macam apa yang telah dikerahkan kaum demon untuk memelintir arwahnya.
Satu hal yang pasti—
Melihat sosoknya saat ini—
Tampak jelas ia meyakini bahwa "terus bertarung" sama artinya dengan "melindungi Kekaisaran," dan itulah alasan mengapa ia mendekap tekad itu begitu erat hingga napas penghabisan.
“Sir Teresa Adelaide.”
Maka dari itu—
“Rumahku pun ada di sini. Ayahku, adik perempuanku, mereka semua hidup di Kekaisaran.”
Karena dia adalah sosok ksatria sejati—
Ada sebuah janji yang wajib ia sampaikan sebagai balasannya.
“Keluargaku, sahabat-sahabatku, semua orang yang kukenal—mereka semua ada di sini.”
Harapan yang ditinggalkan ksatria ini adalah sesuatu yang bisa dipahami dan dirasakan Aiden hingga ke lubuk hatinya.
Noel pernah bertutur bahwa sang Warden of the Realm laksana sang mentari.
Seorang ksatria yang menghargai hari-hari damai bersama siapa pun—tanpa memandang kasta, usia, maupun gender—di atas segalanya.
Alasan mengapa sosok luhur sepertinya bisa memuliakan nilai Kekaisaran sedalam ini… kemungkinan besar—
Adalah karena orang-orang yang bernaung di dalamnya.
Keluarga dan sanak saudaranya. Rakyat jelata yang hidup bersahaja dan bekerja keras setiap hari.
Orang-orang biasa. Orang-orang yang tak berdaya, namun berhati mulia.
Dan hasrat untuk melindungi orang-orang itulah—
Yang teramat selaras dengan alasannya sendiri menceburkan diri ke dalam misi gila menyelamatkan dunia belakangan ini.
[-]
Di balik pelindung matanya, pendar merah itu menatap lurus ke arah Aiden.
Menatap, atau lebih tepatnya,
Ia berdiri terpaku dan mendengarkan setiap patah katanya.
Tak ada lagi raungan perang.
Ia hanya mematung di sana, menyimak apa yang hendak diutarakan pemuda itu.
Menghadapi jiwa yang demikian, Aiden membalas tatapannya secara langsung dan melanjutkan perkataannya.
“Maka, aku berjanji padamu.”
Ia kembali menarik kekuatan dari The Savior’s Vow.
Itu adalah ajaran yang ditanamkan ayahnya sejak ia masih belia, dan sesuatu yang baru ia pahami dengan raganya sendiri setelah beranjak dewasa.
Untuk sebisa mungkin menjauhi orang-orang yang hanya mengumbar janji di bibir belaka.
Dan Aiden enggan menjadi orang dewasa tak bertanggung jawab semacam itu.
Di bawah core yang terbentuk dari seni mana, di dalam geas yang tertanam, ia menyematkan satu makna lagi.
Menyusul geas pertama—untuk melindungi dunia—ia menorehkan sumpah kedua tepat di depan mata sang Warden of the Realm.
“Aku yang akan melindungi Kekaisaran.”
Cita-citanya—nilai-nilai luhur yang begitu ingin ia jaga mati-matian—
Visi damai, sederhana, dan tenteram yang ia impikan adalah hal yang juga sangat dirindukan Aiden. Dan kini, ia yang akan memikul harapan itu menggantikan pundaknya.
Maka dari itu.
Ketahuilah.
“Aku pastikan orang-orang di dalamnya, bahkan mereka yang tak berdaya namun berhati tulus, tak akan pernah menderita ketidakadilan.”
Oleh sebab itu, kumohon padamu.
“Jadi kumohon.”
Semuanya sudah baik-baik saja sekarang.
“Kau boleh berhenti bertarung.”
Beristirahatlah dalam damai.
[-…….]
Di balik pelindung kepala baja itu, keheningan merayap larut.
Dengan pedang yang masih terangkat, sang Warden of the Realm menatap Aiden dalam waktu yang terasa bagai keabadian.
Dan kemudian.
Klang.
Pedang di tangannya terlepas dan jatuh menghantam tanah.
Meski pendar merah di balik pelindung matanya masih menyala bak lentera, hawa permusuhan yang memancar pekat dari dirinya telah mencair lenyap seolah tak pernah ada sedari awal.
Ia memang tak lagi berakal sehat. Ia telah kehilangan kemampuan berucap. Tak ada yang tahu pasti apakah kata-kata pemuda itu benar-benar sampai ke lubuk jiwanya.
Namun kendati demikian—
[-Aku mempercayaimu.]
Rasanya seakan-akan—
Kalimat itulah yang baru saja ia bisikkan.
Dan pada detik itu pula, raganya mulai retak, runtuh, dan berhamburan.
Seolah-olah ia telah menuntaskan harapan terbesarnya yang tertahan menjelang ajal. Seolah-olah tak ada lagi secuil pun penyesalan yang membelenggu jiwanya di dunia ini.
“…….”
“…….”
Dalam keheningan di mana tak seorang pun sanggup bersuara, di tengah serpihan arwah Warden of the Realm yang memudar ke udara—
"Sumber kekuatan" yang bersemayam di dalam dadanya menampakkan wujud. Aiden melangkah perlahan menembus partikel cahaya yang melayang dan menyambutnya lembut dengan kedua belah tangan.
Noel, dengan tatapan kosong nan tertegun, menggumamkan namanya pelan.
“Kincir… angin…”
Sebuah tanda janji yang selalu ia buatkan untuk Noel di masa lalu.
—Aku akan melindungi Kekaisaran!
Hanya berbekal tekad itu.
Hanya dengan ketetapan hati untuk menepati satu sumpah yang pernah ia ucapkan—
Sang Warden of the Realm telah bertahan kokoh melampaui kematian.
“…….”
Kincir angin mainan yang didekap Aiden di tangannya pun tak lama kemudian luruh menjadi pendar partikel cahaya.
Tanda bukti yang memuat ikrar suci sang ksatria itu larut menguap ke udara, berhamburan jauh dan luas. Memudar ke angkasa, perlahan meninggalkan dunia fana ini.
Agar tak ada lagi seorang pun yang bisa mengusik ketenangan peristirahatannya untuk selama-lamanya.